Cara Mengajar Perkalian pada Anak: 5 Metode yang Terbukti Berhasil

Panduan Orang Tua

Maya Putri
Spesialis Pendidikan Anak Usia Dini

Kurikulum Merdeka di SD membagi 6 tahun sekolah dasar menjadi 3 fase: Fase A untuk kelas 1-2, Fase B untuk kelas 3-4, dan Fase C untuk kelas 5-6. Rapor berisi nilai dan deskripsi per mata pelajaran, P5 sejak 2025 diganti kegiatan kokurikuler yang lebih fleksibel, dan kemampuan numerasi anak dipetakan lewat Asesmen Nasional serta TKA kelas 6. Panduan ini untuk orang tua murid SD yang ingin membaca semua istilah itu tanpa bingung.
Ya, Kurikulum Merdeka masih berlaku, dan sekolah juga masih boleh memakai Kurikulum 2013. Dasar hukumnya Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 yang diubah oleh Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025.
Banyak orang tua mengira "deep learning" atau pembelajaran mendalam adalah kurikulum baru pengganti. Menurut siaran pers Kemendikdasmen 23 Juli 2025, pembelajaran mendalam adalah pendekatan mengajar: anak diajak memahami konsep secara utuh, bukan menghafal. Jadi yang diminta berubah adalah cara guru mengajar, bukan isi kurikulumnya.
Permendikdasmen 13/2025 membawa tiga perubahan yang terasa di SD. Istilah Profil Pelajar Pancasila diganti Profil Lulusan, P5 diganti kegiatan kokurikuler yang lebih fleksibel, dan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) masuk sebagai mata pelajaran pilihan mulai kelas 5. Pada Juni 2026 Kemendikdasmen menerbitkan revisi capaian pembelajaran, tetapi yang berubah hanya mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti. Target matematika SD tidak berubah.
Fase adalah rentang 2 tahun yang punya satu target capaian pembelajaran (CP). Guru boleh mengatur materi mana yang diajarkan di tahun pertama dan mana di tahun kedua, asalkan targetnya tercapai di akhir fase.
| Fase | Kelas | Usia | Target matematika di akhir fase |
|---|---|---|---|
| Fase A | Kelas 1-2 | 6-8 tahun | bilangan cacah sampai 100, tambah dan kurang sampai 20 dengan benda, mengenal setengah dan seperempat |
| Fase B | Kelas 3-4 | 8-10 tahun | bilangan sampai 10.000, perkalian dan pembagian sampai 100, pecahan senilai, desimal, dan persen |
| Fase C | Kelas 5-6 | 10-12 tahun | bilangan sampai 1.000.000, KPK dan FPB, operasi pecahan, rasio, luas, keliling, dan sudut |
Isi tabel diringkas dari Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025 tentang capaian pembelajaran. Matematika di dalamnya dibagi ke 5 elemen: Bilangan, Aljabar, Pengukuran, Geometri, serta Analisis Data dan Peluang.
Contoh: anak kelas 4 yang belum lancar perkalian sampai 100 sebenarnya masih punya waktu sampai akhir Fase B. Masalahnya, Fase C langsung memakai perkalian untuk pecahan dan rasio. Celah kecil di kelas 4 sering baru terasa di kelas 5.
Rapor Kurikulum Merdeka memuat satu nilai akhir per mata pelajaran plus deskripsi kemampuan yang sudah dan belum dikuasai. Deskripsi itu lebih berguna daripada angkanya.
Nilai akhir disusun guru dari asesmen sumatif, misalnya ulangan atau proyek di akhir bab, dengan mempertimbangkan pengamatan selama belajar. Kegiatan kokurikuler dilaporkan di bagian tersendiri, biasanya dalam bentuk deskripsi. Format persisnya bisa berbeda antarsekolah karena sekolah menyusun rapor lewat aplikasi e-Rapor dan kebijakan masing-masing.
Cara membacanya dalam 5 langkah:
"Kalimat 'perlu bimbingan dalam operasi pecahan' di rapor kelas 5 jauh lebih berharga daripada angka 78. Kalimat itu memberi tahu apa yang harus dilatih minggu ini." Maya Putri, Algonova
Rapor juga makin penting menjelang SMP. Nilai rapor kelas 4 sampai kelas 6 semester 1 dipakai di jalur prestasi SPMB, seperti dijelaskan di nilai rapor dan TKA untuk masuk SMP negeri.

P5 atau Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila sejak tahun ajaran 2025/2026 diganti kegiatan kokurikuler. Bentuknya bisa pembelajaran kolaboratif lintas mata pelajaran, gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau kegiatan lain yang dirancang sekolah.
Bagi orang tua, artinya proyek yang dulu memakan waktu dan biaya, misalnya kostum atau bahan pameran, kini boleh dibuat lebih sederhana. Sekolah tetap mengadakan proyek, tetapi bentuknya tidak harus pentas besar.
Tujuan kegiatan itu adalah 8 dimensi profil lulusan dari Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025:
Penalaran kritis dan kreativitas paling dekat dengan matematika dan coding. Mapel pilihan KKA juga bertumpu di sini. Kalau sekolah anak belum membuka KKA di kelas 5, latar belakangnya ada di artikel Koding dan Kecerdasan Artifisial masuk kurikulum, dan anak bisa mulai lebih awal di les coding anak SD.
Numerasi adalah kemampuan memakai matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari, sedangkan nilai matematika di rapor mengukur penguasaan materi pelajaran. Anak bisa hafal rumus luas persegi panjang, tetapi bingung saat diminta menghitung berapa ubin untuk lantai kamar.
AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) adalah bagian dari Asesmen Nasional yang mengukur literasi membaca dan numerasi. ANBK adalah nama pelaksanaannya: Asesmen Nasional Berbasis Komputer.
Di SD, Asesmen Nasional tidak diikuti semua anak. Pesertanya sampel acak murid kelas 5, paling banyak 30 anak per sekolah ditambah 5 cadangan, dan hasilnya memotret mutu sekolah lewat Rapor Pendidikan. AN tidak menghasilkan nilai pribadi dan tidak menentukan kelulusan.
Karena itu anak tidak perlu les khusus "soal AKM". Yang perlu dilatih adalah membaca soal cerita panjang dan menjelaskan cara berpikirnya, termasuk saat soalnya berisi tabel.
Sejak 2026, untuk jenjang SD, Kemendikdasmen merancang TKA terintegrasi dengan Asesmen Nasional. Bagi orang tua, tes yang paling terasa di SD sekarang adalah TKA kelas 6.

TKA (Tes Kemampuan Akademik) SD adalah tes nasional untuk murid kelas 6 dengan dua mata pelajaran, Bahasa Indonesia dan Matematika. TKA tidak wajib dan bukan penentu kelulusan, tetapi nilainya bisa dipakai di jalur prestasi SPMB SMP.
TKA SD pertama digelar 20-30 April 2026. Menurut hasil TKA 2026 yang diumumkan Kemendikdasmen, rata-rata nasional SD untuk Bahasa Indonesia 60,14, sedangkan Matematika hanya 43,41.
Selisih hampir 17 poin itu cocok dengan yang sering dilihat guru kami saat diagnostik: anak hafal prosedur, lalu tersendat begitu soal dibungkus cerita. Soal TKA menuntut penalaran, misalnya membaca data dari tabel atau membandingkan pecahan dalam situasi belanja. Jadwal dan materi lengkap untuk angkatan berikutnya ada di TKA SD 2027.
Latihan numerasi paling efektif dilakukan 15 menit sehari dengan benda dan situasi nyata. Lembar soal baru berguna setelah konsepnya dipahami. Pilih kegiatan sesuai fase anak:
Kalau anak terlihat takut setiap kali bertemu angka, mulai dari suasananya dulu. Tipsnya ada di anak takut matematika.
Di Algonova, les matematika SD disusun selaras dengan kurikulum SD Indonesia: Math Starters untuk usia 6-7 tahun dan Math Explorers untuk kelas 3-6. Kelas berlangsung online bersama guru, privat atau grup hingga 10 anak, mulai dari Rp 102.000 per pertemuan. Algonova sudah diikuti lebih dari 1.000.000 siswa di 97 negara.
Blog
Tidak. Pembelajaran mendalam atau deep learning adalah pendekatan mengajar, bukan kurikulum pengganti Kurikulum Merdeka. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan pada Juli 2025 bahwa Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 bukan aturan tentang kurikulum baru, dan sekolah tetap boleh memakai Kurikulum Merdeka atau Kurikulum 2013. Yang didorong berubah adalah cara guru mengajar: anak diajak memahami konsep secara utuh dan mengaitkannya dengan kehidupan nyata. Contohnya, pecahan diajarkan lewat membagi martabak atau takaran resep, baru kemudian lewat rumus. Di rapor, nama fase dan mata pelajaran inti tetap sama, dan revisi capaian pembelajaran Juni 2026 hanya menyentuh Agama dan Budi Pekerti. Orang tua tidak perlu membeli buku baru hanya karena istilah deep learning. Cukup perhatikan apakah anak bisa menjelaskan cara ia menyelesaikan soal, karena di situlah inti pendekatannya.
Fase C adalah kelas 5 dan 6 SD, untuk anak usia sekitar 10-12 tahun. Untuk matematika, fase ini paling padat: anak belajar bilangan sampai 1.000.000, KPK dan FPB, operasi pecahan, desimal, rasio, keliling, luas, dan sudut. Di akhir Fase C, anak kelas 6 juga bisa ikut TKA SD, sehingga celah materi dari Fase B langsung terasa. Contohnya, anak yang belum lancar perkalian akan kesulitan saat menyederhanakan pecahan atau mencari KPK dari 12 dan 18. Sebagai pembanding, Fase A adalah kelas 1-2 dan Fase B kelas 3-4. Setiap fase berlangsung sekitar 2 tahun, dan guru boleh mengatur urutan materi di dalamnya. Kalau anak baru masuk kelas 5, awal semester adalah waktu yang tepat untuk mengecek apakah perkalian, pembagian, dan pecahan senilai dari Fase B sudah benar-benar kuat.
Rapor Kurikulum Merdeka menekankan deskripsi kemampuan, bukan hanya angka dan predikat. Di rapor Kurikulum 2013, orang tua terbiasa melihat nilai pengetahuan dan keterampilan yang dipisah, lengkap dengan predikat A sampai D. Di rapor Kurikulum Merdeka, tiap mata pelajaran biasanya punya satu nilai akhir dan deskripsi tentang kompetensi yang sudah dikuasai dan yang masih perlu ditingkatkan. Kegiatan kokurikuler, yang dulu bernama P5, dilaporkan di bagian tersendiri. Contohnya, deskripsi matematika bisa berbunyi "sudah mampu membandingkan pecahan, perlu bimbingan dalam operasi perkalian pecahan". Kalimat seperti ini langsung menunjukkan topik yang perlu dilatih minggu ini. Format detailnya bisa sedikit berbeda antarsekolah karena dibuat lewat e-Rapor masing-masing. Kalau deskripsinya terlalu umum, orang tua boleh meminta wali kelas menyebutkan satu atau dua contoh soal yang masih keliru.
P5 tidak dihapus begitu saja, tetapi sejak tahun ajaran 2025/2026 diganti kegiatan kokurikuler yang lebih fleksibel. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 mengganti istilah Profil Pelajar Pancasila menjadi Profil Lulusan, dan proyek P5 diganti kegiatan seperti pembelajaran kolaboratif lintas mata pelajaran atau gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Sekolah tetap mengadakan proyek, tetapi tidak harus dalam bentuk pameran atau pentas besar yang memakan biaya. Contohnya, satu kelas bisa membuat survei sampah plastik di sekolah, menghitung jumlahnya per jenis, lalu menyajikannya dalam diagram batang. Proyek kecil seperti itu sekaligus melatih numerasi dan kolaborasi. Hasil kokurikuler dilaporkan di bagian rapor tersendiri, biasanya berupa deskripsi. Kalau sekolah masih meminta biaya proyek yang besar, orang tua boleh menanyakan dasar kebijakannya ke wali kelas atau komite sekolah.
Tidak. Di jenjang SD, Asesmen Nasional diikuti sampel acak murid kelas 5, paling banyak 30 anak per sekolah ditambah 5 anak cadangan. Peserta dipilih oleh sistem dengan memperhatikan rombongan belajar dan jenis kelamin, jadi sekolah tidak memilih anak yang paling pintar. Hasil AN dipakai untuk Rapor Pendidikan sekolah dan daerah, bukan untuk menilai anak secara pribadi atau menentukan kelulusan. Karena itu anak yang terpilih tidak perlu les khusus soal AKM. Latihan yang berguna adalah membaca soal cerita, membaca tabel dan grafik, serta menjelaskan langkah berpikir dengan kalimat sendiri. Sejak 2026, untuk jenjang SD, Kemendikdasmen merancang TKA kelas 6 terintegrasi dengan Asesmen Nasional. Persiapan numerasi sebaiknya dimulai jauh sebelum kelas 6, idealnya sejak Fase B, ketika perkalian dan pecahan mulai dikenalkan.
Numerasi adalah kemampuan memakai angka dan konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari. Anak yang kuat numerasinya bisa menghitung kembalian, membaca jadwal, membandingkan harga, dan memahami grafik sederhana. Cara melatihnya paling efektif dengan situasi nyata selama 10-15 menit sehari. Contohnya, ajak anak kelas 3 menghitung total belanja di warung beserta kembaliannya, atau minta anak kelas 6 membandingkan harga per gram dua bungkus biskuit. Setelah itu, minta ia menjelaskan caranya dengan kata-kata sendiri. Lembar soal tetap berguna, tetapi sebagai penguat setelah anak paham konsepnya. Rata-rata nasional matematika TKA SD 2026 hanya 43,41 dari 100, jauh di bawah Bahasa Indonesia yang 60,14. Latihan numerasi rutin sejak kelas rendah memberi keuntungan besar ketika anak sampai di kelas 6 dan mulai bertemu soal cerita yang panjang.
TKA SD tidak wajib dan tidak menentukan kelulusan. Kemendikdasmen menyatakan TKA bukan ujian kelulusan, melainkan pemetaan kemampuan akademik murid kelas 6 di mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Meski begitu, nilainya bisa dipakai di jalur prestasi SPMB SMP bersama nilai rapor, dengan bobot yang diatur pemerintah daerah. Karena itu banyak orang tua tetap mendaftarkan anaknya. TKA SD pertama digelar 20-30 April 2026, dan hasil nasionalnya diumumkan Kemendikdasmen pada 26 Mei 2026. Kesempatan ikut TKA hanya satu kali per jenjang, jadi tidak ada percobaan kedua untuk memperbaiki nilai. Kalau anak sekarang kelas 5, sisa waktu persiapannya kira-kira 1,5 tahun. Waktu itu cukup untuk menutup celah materi Fase B dan Fase C secara bertahap, tanpa harus belajar kebut di semester terakhir kelas 6.
Tidak. Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) adalah mata pelajaran pilihan, bukan wajib. Menurut Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, KKA bisa diajarkan mulai kelas 5 SD dan diterapkan bertahap sejak tahun ajaran 2025/2026, tergantung kesiapan guru dan sarana di tiap sekolah. Jadi wajar kalau satu sekolah sudah membukanya, sementara sekolah lain di kota yang sama belum. Materinya melatih berpikir komputasional, misalnya memecah masalah besar menjadi langkah kecil, dan keterampilan ini dekat dengan numerasi. Contohnya, saat membuat game sederhana di Scratch, anak harus menghitung skor dan mengatur koordinat karakter di layar. Kalau sekolah belum menawarkan KKA, anak bisa mulai lewat kelas coding online dari rumah. Dengan begitu, ia masuk kelas 5 dengan dasar logika yang sudah terbentuk dan tidak kaget saat mapel ini dibuka.
Anak perlu les matematika tambahan kalau deskripsi rapor menyebut topik yang sama dua semester berturut-turut, atau kalau anak mulai menghindari soal angka. Tanda lainnya: anak kelas 3-4 masih menghitung dengan jari untuk penjumlahan sederhana, atau anak kelas 5-6 bingung setiap kali bertemu pecahan dan soal cerita. Sebelum memilih les, cari tahu dulu topik mana yang tertinggal dari target fasenya, karena les umum yang mengulang semua materi sering membuang waktu dan uang. Contohnya, anak kelas 5 yang hanya lemah di pecahan cukup fokus 6-8 minggu di topik itu. Di Algonova, langkah pertama adalah diagnostik matematika gratis sekitar 60 menit, dengan laporan per topik dan rencana belajar. Setelah melihat hasilnya, orang tua bisa memutuskan dengan tenang apakah anak perlu les rutin atau cukup latihan terarah di rumah.