Cara Mengajar Perkalian pada Anak: 5 Metode yang Terbukti Berhasil

Salah Kaprah

Nadia Rahmawati
Tim Kurikulum Matematika Algonova

Anak takut matematika biasanya bukan karena ia tidak cocok dengan angka, melainkan karena ia belajar bahwa salah itu memalukan. Studi Maloney dkk. (2015) pada 438 anak kelas 1-2 SD menemukan anak belajar lebih sedikit dan lebih cemas ketika orang tua yang sendiri cemas matematika sering membantu PR. Di bawah ini ada 6 kesalahan orang tua yang paling sering memperkuat rasa takut itu, lengkap dengan kalimat pengganti yang bisa langsung dipakai malam ini.
Anak yang takut matematika bereaksi sebelum soalnya dibaca, sedangkan anak yang kesulitan bingung pada materi tertentu. Bedanya menentukan obatnya. Rasa takut reda lewat suasana dan sikap orang dewasa di sekitarnya, sedangkan kesulitan materi diatasi dengan penjelasan ulang dan latihan bertahap.
| Yang terlihat | Takut matematika | Kesulitan pada materi |
|---|---|---|
| Kapan muncul | Sebelum mulai, begitu buku atau kata "PR matematika" muncul | Saat bertemu topik tertentu, misalnya pecahan atau perkalian |
| Reaksi anak | Menunda, sakit perut mendadak, menangis, tiba-tiba mengantuk | Bingung, diam, bertanya "kok bisa begini?" |
| Ucapannya | "Aku memang bodoh matematika" | "Aku belum ngerti yang ini" |
| Mata pelajaran lain | Hanya matematika yang dihindari | Biasanya terpusat pada topik yang butuh dasar lama |
| Setelah dijelaskan | Tetap tegang walau jawabannya sudah jelas | Membaik kalau dijelaskan dengan cara lain |
Kalau kolom kiri terasa familiar, artikel ini untuk Anda. Kalau lebih mirip kolom kanan, baca juga 7 penyebab anak susah belajar matematika. Keduanya bisa terjadi bersamaan: anak yang berkali-kali gagal di satu topik sering mulai takut pada semua topik.
Kecemasan matematika (math anxiety) bukan istilah dari media sosial. Tinjauan Dowker dkk. (2016) di Frontiers in Psychology merangkum 60 tahun risetnya. Kecemasan berat memang jarang pada anak kecil, tetapi beberapa peneliti menemukan kecemasan yang nyata bahkan pada anak SD kelas awal. Ramirez dkk. (2013) mendapati kecemasan itu paling merugikan anak yang justru punya memori kerja tinggi, kemungkinan karena rasa cemas memakai ruang berpikir yang biasanya mereka andalkan.
Temuan yang paling relevan untuk orang tua datang dari studi Maloney dkk. di Psychological Science (2015). Peneliti mengukur kemampuan matematika dan kecemasan 438 anak kelas 1-2 SD di awal dan akhir tahun ajaran. Anak dari orang tua yang cemas matematika belajar lebih sedikit dan lebih mudah ikut cemas, tetapi hanya pada keluarga yang orang tuanya sering membantu PR. Kemampuan membaca anak tidak terpengaruh.
Yang menurunkan hasil bukan bantuan itu sendiri, melainkan cara membantu yang dibawa bersama rasa cemas orang tua.
Penelitinya menegaskan orang tua perlu dibekali cara membantu, bukan sekadar disuruh "terlibat". Jadi tujuannya bukan berhenti mendampingi anak, melainkan mengganti caranya.
Keenam kesalahan ini hampir selalu dilakukan dengan niat baik. Karena itu mudah luput dan terasa wajar.
Kalimat ini maksudnya menghibur, tetapi anak menangkapnya sebagai izin: kalau orang tuaku tidak bisa, berarti aku memang tidak akan bisa. Sikap terhadap matematika menular lebih mudah daripada rumusnya, dan Maloney dkk. menunjuk sikap, bukan gen, sebagai penjelas yang lebih mungkin.
Yang membantu: "Matematika memang butuh waktu. Yuk kita cari tahu bareng." Orang tua tidak perlu pura-pura jago, cukup tidak mewariskan kesimpulan "matematika bukan untuk kita".
Anak sering membaca wajah orang tua lebih cepat daripada membaca soal. Helaan napas, mata berputar, atau "Kok gitu aja salah?" mengubah salah menjadi sesuatu yang memalukan. Setelah beberapa kali, anak berhenti mencoba karena tidak mencoba berarti tidak bisa salah.
Coba ini: "Salahnya menarik. Kamu sampai langkah mana? Coba tunjukkan." Jawaban yang salah menunjukkan di mana pemahaman anak terputus, jadi perlakukan sebagai petunjuk.
Menghitung dengan timer atau memberi 30 soal "biar terbiasa" memakai ruang berpikir anak untuk rasa tegang, bukan untuk soalnya. Ramirez dkk. (2013) menunjukkan kecemasan menekan anak yang sebenarnya mampu. Anak yang lambat tetapi paham lebih baik daripada anak yang cepat tetapi menghafal dan panik.
Gantinya, kerjakan 3 soal dengan pelan sambil menjelaskan alasannya dengan kata-kata sendiri. Kecepatan datang belakangan, setelah anak merasa aman.
Orang tua yang cemas sering tidak tahan melihat anak diam. Maka pensil diambil, jawaban disebutkan, atau diajarkan "cara cepat" yang berbeda dari cara guru. Inilah pola yang dalam studi Maloney dkk. berhubungan dengan anak yang belajar lebih sedikit. Anak akhirnya menunggu dibantu, dan dua cara yang berbeda membuatnya bingung.
Tunggu 30 detik, lalu tanyakan, "Apa yang sudah kamu tahu dari soal ini?" Kalau Anda sendiri ragu, buka contoh di buku sekolah dan pakai cara yang sama dengan guru.
"Kakakmu dulu cepat sekali" atau "Lihat Rani, nilainya 90" tidak memotivasi anak yang sedang takut. Ia justru menyimpulkan bahwa ia termasuk golongan yang tidak bisa. Perbandingan mengalihkan perhatian anak dari soal ke harga dirinya.
Bandingkan anak dengan dirinya sendiri saja. "Bulan lalu kamu masih ragu pada perkalian 6, sekarang sudah lancar sampai 6 kali 8."
Reaksi paling umum orang tua adalah menambah jam belajar. Kalau akarnya rasa malu karena pernah ditertawakan teman, atau satu topik lama yang bolong, menambah porsi hanya menambah momen yang tidak enak. Takutnya makin besar, jumlah soalnya juga.
Cari tahu dulu. Tanyakan, "Bagian mana yang paling bikin deg-degan?" lalu cek topik apa yang bolong. Cara belajar matematika yang efektif dimulai dari mengetahui posisi anak, bukan dari menambah soal.

Perubahan paling cepat datang dari kalimat yang Anda ucapkan, jadi mulai dari situ.
| Alih-alih mengatakan | Coba katakan |
|---|---|
| "Ibu dulu juga lemah matematika" | "Matematika memang butuh waktu. Kita cari tahu bareng." |
| "Kok gitu aja salah?" | "Salahnya menarik. Kamu sampai langkah mana?" |
| "Ayo cepat, waktunya habis!" | "Pelan saja. Ceritakan caramu." |
| "Sini, Ibu kerjakan." | "Apa yang sudah kamu tahu dari soal ini?" |
| "Kakakmu dulu lebih jago." | "Bulan lalu ini masih sulit, sekarang kamu bisa." |
| "Kamu harus les tambahan." | "Bagian mana yang paling bikin deg-degan?" |
Rencana berikut bisa dimulai malam ini dan tidak menambah beban belajar anak:
Anak Anda masih di kelas 1-2 SD? Lihat persiapan matematika anak 6-7 tahun. Untuk gambaran lengkap seluruh jenjang SD, ada panduan matematika anak SD.

Jangan menunggu rasa takutnya membesar. Bicarakan dengan guru kelas bila anak mulai menghindari pelajaran matematika atau pura-pura sakit sebelum ulangan. Temui psikolog anak atau konselor sekolah bila rasa takutnya muncul hampir setiap kali, disertai keluhan fisik berulang seperti sakit perut atau sakit kepala, mengganggu tidur, atau membuat anak menolak berangkat sekolah. Itu sudah melampaui urusan matematika.
Kalau yang bolong ternyata topiknya, bukan perasaannya, anak membutuhkan peta yang jelas. Asesmen matematika menunjukkan topik mana yang goyah, sehingga latihan tidak lagi acak. Di Algonova, diagnostik berlangsung sekitar 60 menit bersama guru, dalam suasana santai, lalu orang tua menerima hasil per topik. Belajar berikutnya dilakukan dalam grup hingga 10 anak, jadi anak tidak sendirian menghadapi soal. Kalau perlu pembanding, baca juga 8 strategi supaya anak suka matematika.
Cara mengatasi anak takut matematika dimulai dari mengubah suasana, bukan menambah soal. Hentikan reaksi negatif saat anak salah, ganti dengan rasa ingin tahu, lalu kerjakan sedikit soal dengan pelan. Pilihan kata juga penting: katakan "belum bisa", bukan "tidak bisa". Pilih satu topik yang sudah dikuasai anak dan mulai dari situ supaya ia merasakan keberhasilan lebih dulu. Setelah dua minggu, catat topik mana yang masih membuatnya tegang, karena topik itu biasanya menunjukkan dasar yang bolong. Kalau rasa takut tetap kuat, jangan menunggu lebih lama: bicarakan dengan guru kelas dan pertimbangkan diagnostik matematika untuk melihat peta kemampuan anak per topik. Menyelesaikan masalah dari akarnya lebih efisien daripada menambah jam belajar tanpa arah, dan anak merasakan perbedaannya dalam beberapa minggu.
Ya, rasa tegang pada matematika umum terjadi, dan sebagian peneliti, termasuk Ramirez dkk. (2013), sudah menemukannya pada anak kelas 1-2 SD. Normal bukan berarti dibiarkan. Kecemasan berat memang lebih jarang pada anak kecil. Rasa takut yang ringan, misalnya gugup sebelum ulangan, biasanya reda dengan latihan dan dukungan yang tenang. Rasa takut yang membuat anak menghindari matematika, menangis, atau berkata "aku bodoh" perlu ditangani lebih serius, karena anak yang menghindar kehilangan kesempatan berlatih dan makin tertinggal. Amati seberapa sering rasa takut itu muncul, pada situasi apa, dan apakah hanya pada matematika. Kalau hanya pada matematika dan muncul hampir setiap kali, itu tanda yang layak ditindaklanjuti sejak dini, bukan menunggu sampai kelas atas.
Penyebabnya biasanya gabungan beberapa hal: pengalaman salah yang dipermalukan, topik lama yang bolong, tekanan nilai, perbandingan dengan saudara atau teman, dan sikap orang dewasa yang menganggap matematika sulit. Penelitian Maloney dkk. (2015) menunjukkan sikap orang tua terhadap matematika ikut menentukan kecemasan anak, terutama ketika orang tua sering membantu PR dengan cara yang cemas. Setiap anak punya kombinasi yang berbeda, jadi cara paling andal adalah bertanya langsung dan mengamati kapan ia mulai tegang. Catat apakah takutnya muncul saat ulangan, saat dipanggil ke depan kelas, atau saat PR di rumah. Ketiganya membutuhkan penanganan yang berbeda dan tidak selalu berarti anak lemah berhitung. Ceritakan temuan itu kepada guru kelas supaya sekolah dan rumah memberi pesan yang sama kepada anak.
Menangis saat belajar matematika adalah tanda tekanan emosi yang perlu didengar, tetapi belum tentu trauma. Hentikan sesi saat anak menangis, tenangkan, dan jangan lanjutkan dengan soal yang sama hari itu. Esoknya, mulai dari soal yang pasti bisa ia kerjakan. Perhatikan polanya: menangis hanya saat dikoreksi, hanya saat dibantu orang tertentu, atau hanya pada topik tertentu. Pola itu memberi petunjuk sumbernya. Bila tangisan hampir selalu muncul, disertai keluhan fisik atau penolakan sekolah, temui psikolog anak atau konselor sekolah. Mereka bisa menilai apakah ini kecemasan yang perlu pendampingan khusus, hal yang tidak bisa dipastikan dari rumah saja.
Bisa, lewat sikap, bukan lewat gen. Studi Maloney dkk. (2015) menemukan bahwa anak dari orang tua yang cemas matematika belajar lebih sedikit ketika orang tuanya sering membantu PR, dan peneliti menilai penularan sikap lebih mungkin daripada faktor genetik, meskipun faktor genetik tidak bisa dikesampingkan. Kabar baiknya, sikap bisa diubah. Orang tua tidak perlu menjadi ahli matematika. Cukup hindari kalimat seperti "Ibu juga tidak bisa", tunggu sebelum membantu, dan pakai cara yang sama dengan buku sekolah. Kalau Anda sendiri merasa tegang saat melihat soal, minta guru atau tutor mendampingi, dan Anda cukup menjadi pendengar yang tenang. Jujur pada diri sendiri soal rasa tegang itu juga sudah langkah pertama yang baik.
Belum tentu. Les menolong kalau akar masalahnya topik yang bolong, tetapi tidak menolong kalau akarnya rasa malu atau tekanan di rumah. Menambah les tanpa mengubah suasana bisa membuat anak merasa dihukum. Mulai dengan mencari tahu sumber takutnya, lalu pilih format yang membuatnya aman. Di Algonova, kelas berbentuk grup hingga 10 anak dan diawali diagnostik gratis sekitar 60 menit, sehingga guru tahu topik mana yang perlu diperkuat dulu. Perhatikan juga apakah anak mau masuk kelas setelah dua atau tiga pertemuan dan apakah ia pulang dengan wajah lebih lega. Itu ukuran awal yang jujur, lebih jujur daripada nilai latihan pertama.
Tidak ada angka pasti yang berlaku untuk semua anak, jadi waspadai janji "pulih dalam seminggu". Yang bisa diamati adalah tanda-tanda awal: anak mau membuka buku tanpa dibujuk, berani menyebut soal yang tidak ia mengerti, dan tidak lagi berkata "aku bodoh". Tanda itu sering muncul dalam beberapa minggu bila suasana di rumah konsisten tenang. Rasa takut yang sudah bertahun-tahun biasanya butuh waktu lebih lama dan lebih baik didampingi guru atau psikolog. Pegang prinsip kemajuan kecil: satu soal yang dikerjakan tanpa tegang sudah merupakan hasil. Tandai di kalender setiap hari anak mau mencoba, supaya ia sendiri melihat bahwa ia bergerak, walau pelan. Kalau setelah beberapa minggu tidak ada perubahan sama sekali, itu alasan untuk meminta bantuan guru atau psikolog, bukan alasan untuk menambah tekanan.
Sebaiknya tidak dipaksakan. Kelas pengayaan dan olimpiade menambah tekanan waktu dan perbandingan, dua hal yang justru memperparah rasa takut. Tunggu sampai anak mengerjakan soal rutin dengan tenang dan mau bercerita tentang cara berpikirnya. Setelah itu, pilih satu kegiatan yang ia minati, bukan semua yang tersedia. Kalau anak sendiri yang ingin ikut, dukung dengan tujuan yang kecil, misalnya mencoba satu soal olimpiade tanpa target nilai. Hasil di kompetisi bukan ukuran keberhasilan penanganan rasa takut. Ukurannya adalah anak kembali merasa mampu dan mau mencoba lagi. Bila ia ragu atau minta berhenti, hormati itu dan kembali ke latihan rutin yang tenang dulu, lalu coba lagi beberapa bulan kemudian kalau ia sudah siap.
Ke psikolog anak atau konselor sekolah bila rasa takut meluas di luar matematika, disertai keluhan fisik berulang, mengganggu tidur atau nafsu makan, atau membuat anak menolak berangkat sekolah. Guru les menolong pada sisi kemampuan. Psikolog menolong pada sisi perasaan. Keduanya bisa berjalan bersamaan. Mulailah dengan guru kelas, karena guru melihat perilaku anak di sekolah dan bisa memberi gambaran awal. Jangan merasa ini berlebihan. Konsultasi dini jauh lebih ringan daripada menunggu sampai anak menolak sekolah, dan hasilnya sering berupa saran sederhana yang bisa langsung dilakukan di rumah. Bawa catatan singkat tentang kapan rasa takutnya muncul dan apa yang Anda lakukan saat itu, supaya pertemuan pertama langsung berguna.
Blog