Biaya Les Sakamoto 2026: Komponen Biaya, Cara Menghitung, dan Perbandingan dengan Les Online

Belajar Coding

Fajar Hidayat
Tim Kurikulum Coding Algonova

Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) kini resmi ada di kurikulum sekolah Indonesia. Kabar ini membuat banyak orang tua bertanya hal yang sama: apakah anak saya wajib mengikutinya, dan apakah dia perlu les tambahan di luar sekolah?
Jawaban singkatnya: KKA adalah mata pelajaran pilihan, bukan wajib — dan itu justru yang membuat situasinya membingungkan. Artikel ini merangkum apa yang benar-benar tertulis di aturan resminya, lalu membahas apa artinya untuk anak Anda.
Menurut laman resmi Kemendikdasmen (kodingka.kemendikdasmen.go.id), pembelajaran Koding dan KA dirancang untuk mengembangkan "berpikir komputasional, analisis data, algoritma pemrograman, serta pemahaman etika KA".
Statusnya: mata pelajaran pilihan. Sekolah bahkan boleh memilih salah satu dari tiga cara penerapan — sebagai mata pelajaran pilihan tersendiri, diintegrasikan ke mata pelajaran yang sudah ada, atau dijalankan sebagai kegiatan ekstrakurikuler.
| Jenjang | Jam per minggu |
|---|---|
| SD kelas 5–6 | 2 jam |
| SMP kelas 7–9 | 2 jam |
| SMA/SMK kelas 10 | 2 jam |
| SMA kelas 11–12 | hingga 5 jam |
| SMK kelas 11–12 | hingga 4 jam |
Perhatikan satu hal penting: KKA baru dimulai di kelas 5 SD. Untuk anak kelas 1–4, tidak ada materi ini di sekolah sama sekali.
Pendekatannya berjenjang, dan ini sering disalahpahami:
Jadi kalau Anda membayangkan anak kelas 5 pulang sekolah bisa membuat aplikasi, ekspektasi itu perlu disesuaikan.
Untuk anak yang masih kelas 1–4 SD, jenjang yang belum kebagian KKA sama sekali, ada panduan terpisah yang membahas ide dasar AI dan proyek sederhana per kelas: Belajar AI untuk Anak SD.
Ini konsekuensi paling praktis dari statusnya. Karena bukan mata pelajaran wajib, penerapannya bergantung pada kesiapan masing-masing sekolah — apakah ada guru yang mampu mengajar, apakah ada perangkat, apakah ada jam yang tersedia.
Langkah pertama yang paling berguna bukan mendaftarkan anak ke kursus. Langkah pertama adalah bertanya ke sekolah: apakah KKA dijalankan, dalam bentuk apa (mapel, integrasi, atau ekskul), dan mulai kelas berapa.
Kalau Anda ingin detail lengkap soal dasar hukumnya dan kelas mana saja yang sudah benar-benar menerapkan KKA tahun ini, kami membahasnya lebih dalam di Koding dan AI: Wajib atau Pilihan? Ini Faktanya untuk Orang Tua.
Bahkan kalau sekolah menjalankannya penuh, 2 jam per minggu adalah pengenalan — bukan penguasaan. Itu cukup untuk membuat anak paham apa itu algoritma, tidak cukup untuk membuatnya bisa membangun sesuatu sendiri.
Ini bukan kritik terhadap kurikulumnya. Semua mata pelajaran pengenalan bekerja seperti ini. Tetapi penting agar Anda tidak salah menilai: kalau anak Anda benar-benar tertarik, sekolah tidak akan menjadi tempat dia berkembang jauh.
Berpikir komputasional — memecah masalah besar menjadi langkah-langkah kecil, mengenali pola, menyusun urutan — adalah inti dari materi ini, dan itu terpakai di luar komputer. Anak yang terbiasa berpikir begitu akan lebih mudah di matematika juga.
Karena itu, kalau anak Anda kesulitan di matematika, memaksakan koding lebih dulu jarang membantu. Keduanya berdiri di atas fondasi yang sama, dan matematika adalah fondasi yang lebih dasar.
Jawaban jujurnya: tergantung, dan tidak selalu ya.
Tidak perlu buru-buru kalau: anak Anda di bawah kelas 4, atau belum menunjukkan ketertarikan sendiri, atau sedang kesulitan dengan pelajaran inti seperti matematika. Fondasi dulu.
Masuk akal kalau: anak sudah tertarik dan bosan dengan kecepatan di sekolah, atau sekolahnya tidak menjalankan KKA sama sekali, atau anak sudah di SMP–SMA dan ingin menekuninya lebih serius.
Yang perlu dihindari adalah mendaftarkan anak hanya karena kabar bahwa "koding masuk kurikulum". Kurikulum baru bukan alasan untuk membeli sesuatu — ketertarikan anak dan kesiapan sekolahnya adalah alasan yang sebenarnya.
Kami mengajar koding untuk anak secara online untuk usia 5–17, dalam kelompok kecil bersama guru. Materinya berjenjang dengan logika yang mirip dengan kurikulum: anak kecil mulai dari pemrograman berbasis blok, remaja lanjut ke Python dan web. Untuk anak SD ada program koding anak SD, dan untuk remaja ada kelas SMP–SMA.
Karena formatnya online, anak bisa ikut dari kota mana pun — termasuk kalau sekolahnya belum menjalankan KKA.
Satu hal yang akan kami katakan terus terang: kalau anak Anda sedang tertinggal di matematika, kami akan menyarankan kelas matematika lebih dulu. Berpikir komputasional tumbuh dari sana.
Cara paling mudah untuk mengetahui posisi anak sekarang adalah masterclass gratis 60 menit bersama guru. Tidak ada kewajiban melanjutkan setelahnya.
Koding dan Kecerdasan Artifisial adalah mata pelajaran pilihan, dimulai dari kelas 5 SD, dengan 2 jam per minggu di sebagian besar jenjang, dan boleh dijalankan sekolah sebagai mapel, integrasi, atau ekstrakurikuler.
Artinya: pengalaman anak Anda akan sangat bergantung pada sekolahnya. Tanyakan dulu ke sekolah sebelum memutuskan apa pun — itu informasi yang paling menentukan, dan gratis.
Mulai tahun ajaran 2025/2026, koding dan kecerdasan artifisial menjadi mata pelajaran pilihan di jenjang SD dan SMP di Indonesia, sehingga anak sebaiknya mengenal dasar-dasarnya sejak dini, meski sekolahnya belum menjalankannya. Orang tua tidak perlu bisa coding untuk mendukung, cukup memberi anak akses belajar yang tepat dan bertahap.
Program koding kami mengikuti logika berjenjang yang mirip dengan kurikulum resmi. Anak usia 5–7 tahun mulai dari ScratchJr dan literasi digital dasar. Usia 8–12 tahun lanjut ke koding anak SD, dengan pengenalan aplikasi AI di dalam kelas Visual Programming. Usia 13–17 tahun masuk ke kelas SMP–SMA, dengan Python dan kelas AI tersendiri.
Kalau anak Anda tertarik langsung pada kecerdasan artifisial, ada program yang lebih terarah daripada koding secara umum: kelas AI untuk anak usia 8-17. Untuk usia 12–15, kelas ini berjalan 36 pertemuan pada level intermediate, mengajarkan prompt engineering dengan ChatGPT, dasar pembuatan kode website (HTML/CSS), pembuatan gambar dan concept art, produksi audio dan video, sampai pengenalan Generative Adversarial Networks (GAN). Muridnya memakai lebih dari selusin tools AI seperti ChatGPT, Craiyon, RunWay, dan HeyGen. Proyek akhirnya mulai dari game digital dan cerita interaktif sampai portfolio website yang dipublikasikan online, dilengkapi pembahasan etika AI dan gambaran karier di bidang ini. Urutan materinya dari pengenalan sampai proyek portfolio dirangkum di jalur belajar AI untuk anak di Algonova, supaya orang tua tahu apa yang dipelajari anak di tiap tahap.
Cara paling mudah untuk melihat cocok tidaknya adalah masterclass gratis 60 menit, agar anak mulai dari level yang sesuai.
Tidak. Menurut laman resmi Kemendikdasmen, KKA ditetapkan sebagai mata pelajaran pilihan. Sekolah bahkan boleh memilih satu dari tiga cara penerapan: sebagai mata pelajaran pilihan, diintegrasikan ke mata pelajaran yang sudah ada, atau sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Karena itu penerapannya berbeda-beda antar sekolah.
Mulai kelas 5 SD. Alokasinya 2 jam per minggu untuk SD kelas 5–6, SMP kelas 7–9, dan SMA/SMK kelas 10; untuk SMA kelas 11–12 bisa sampai 5 jam dan SMK kelas 11–12 sampai 4 jam. Untuk anak kelas 1–4 SD, materi ini belum ada di sekolah.
Berpikir komputasional, analisis data, algoritma pemrograman, dan pemahaman etika kecerdasan artifisial. Pendekatannya bertingkat: di SD lewat metode unplugged tanpa komputer, di SMP dengan pemrograman berbasis blok, dan di SMA/SMK dengan koding berbasis teks serta penerapan AI.
Belum tentu. Dua jam per minggu adalah pengenalan, bukan penguasaan — jadi kalau anak benar-benar tertarik, sekolah memang bukan tempat dia berkembang jauh. Tetapi kalau anak masih di bawah kelas 4, belum menunjukkan ketertarikan sendiri, atau sedang kesulitan di matematika, fondasi lebih penting daripada menambah kursus.
Itu mungkin terjadi, karena statusnya pilihan dan penerapannya bergantung pada kesiapan sekolah. Langkah pertama yang paling berguna adalah bertanya langsung ke sekolah: apakah KKA dijalankan, dalam bentuk apa, dan mulai kelas berapa. Baru setelah itu memutuskan perlu tidaknya belajar di luar sekolah.
Kalau anak sedang kesulitan di matematika, matematika lebih dulu. Berpikir komputasional — memecah masalah menjadi langkah kecil, mengenali pola, menyusun urutan — berdiri di atas fondasi yang sama dengan matematika, dan fondasi itu lebih dasar.
Ya. Untuk anak yang tertarik langsung ke AI, bukan sekadar koding umum, ada kelas AI khusus usia 8–17 tahun. Untuk usia 12–15, materinya meliputi prompt engineering dengan ChatGPT, pembuatan gambar dan video dengan tools AI, dasar Generative Adversarial Networks, sampai proyek portfolio website yang dipublikasikan online, dilengkapi pembahasan etika AI.
Tidak, dan memang bukan tujuannya. KKA di sekolah adalah pengenalan dua jam per minggu sesuai kurikulum resmi. Kelas AI di luar sekolah adalah pendalaman bagi anak yang sudah tertarik dan ingin membangun proyek nyata, bukan pengganti kurikulum.
Blog