Cara Mengajar Perkalian pada Anak: 5 Metode yang Terbukti Berhasil

Panduan Orang Tua

Maya Putri
Spesialis Pendidikan Anak Usia Dini

Diperbarui: November 2026
Anak tidak bisa diam sering kali normal, karena anak usia SD memang aktif dan perhatiannya naik turun. Anak baru perlu diperiksa kalau gejalanya terjadi sering, bertahan sekitar 6 bulan atau lebih, muncul di rumah dan di sekolah, dan mengganggu belajar atau pertemanan. Artikel ini membantu orang tua membedakannya. Diagnosis hanya bisa dibuat oleh dokter anak, psikolog, atau psikiater anak.
Ya, anak yang aktif dan sulit duduk tenang sering kali normal, terutama kalau terjadi dalam situasi tertentu saja.
CDC (pusat pengendalian penyakit Amerika Serikat) menyebut wajar bila anak sesekali sulit fokus dan sulit mengatur perilaku. Beberapa hal yang membuat anak tampak tidak bisa diam padahal tidak ada gangguan:
Kalau anak tenang saat menggambar atau bermain balok tetapi gelisah saat PR, penyebabnya sering ada di situasi, bukan di anaknya. Penyebab lain yang sering ditemui sudah kami bahas di artikel anak susah fokus belajar.
Hiperaktif adalah perilaku yang terlalu banyak bergerak dan bukan diagnosis, sedangkan ADHD adalah diagnosis medis yang hanya bisa ditegakkan oleh tenaga profesional.
ADHD (attention-deficit/hyperactivity disorder) di Indonesia sering disebut GPPH, Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas. Menurut American Psychiatric Association (halaman ditinjau Oktober 2025), gejala ADHD muncul sejak masa kanak-kanak, harus terlihat jelas selama minimal 6 bulan, dan menimbulkan hambatan yang nyata. Perkiraan jumlah anak yang mengalaminya sekitar 8,4%.
Ada tiga tampilan: dominan sulit memusatkan perhatian, dominan hiperaktif dan impulsif, atau gabungan keduanya. Anak yang dominan sulit memusatkan perhatian bisa tampak tenang tetapi sering melamun dan lupa, sehingga mudah terlewat. Jadi anak yang tidak bisa diam belum tentu ADHD, dan anak yang tampak tenang pun tidak otomatis bebas dari kemungkinan itu.

Yang membedakan bukan seberapa banyak anak bergerak, tetapi seberapa sering, di mana saja, berapa lama, dan seberapa besar dampaknya.
| Hal yang diperhatikan | Lebih sering pada anak aktif biasa | Layak dibicarakan dengan dokter atau psikolog | | Seberapa sering | Muncul pada waktu tertentu, misalnya saat lelah atau bosan | Muncul sering dan pada banyak kegiatan | | Di mana | Hanya di satu tempat, misalnya saat PR | Di rumah dan di sekolah, juga bersama teman | | Berapa lama | Hitungan hari atau minggu, mengikuti situasi | Bertahan sekitar 6 bulan atau lebih | | Dampak | Anak tetap bisa belajar dan berteman | Mengganggu belajar, pertemanan, atau keselamatan | | Sejak kapan | Muncul setelah ada perubahan, misalnya pindah sekolah | Sudah ada sejak masa kanak-kanak |
Tabel ini membantu merapikan pengamatan, bukan alat diagnosis. Pada tahap ini yang paling berguna adalah mencatat.
Menurut halaman gejala dari CDC (ditinjau 30 Juli 2026), tanda yang sering disebut terbagi dua: sulit memusatkan perhatian, dan hiperaktif atau impulsif.
Sulit memusatkan perhatian dapat tampak seperti:
Hiperaktif dan impulsif dapat tampak seperti:
Hampir semua anak pernah menunjukkan beberapa hal di atas. Menurut APA, penilaian dilakukan bila ada enam gejala atau lebih yang sering muncul, dan hanya tenaga profesional yang bisa menilainya. Jadi daftar ini tidak untuk menghitung sendiri.
Bawa anak ke dokter anak, psikolog, atau psikiater anak kalau gejalanya sering muncul, bertahan lama, terlihat di lebih dari satu tempat, dan mengganggu kehidupan anak.
Pertimbangkan pemeriksaan kalau:
IDAI menganjurkan segera mencari bantuan profesional, yaitu dokter spesialis anak, psikolog, atau psikiater anak, bila ada tanda gangguan belajar yang dikeluhkan anak atau gurunya. Pemeriksaan dini juga membantu anak terhindar dari label seperti malas atau nakal. Pemeriksaan biasanya melibatkan tim.
Menurut CDC (ditinjau 21 Oktober 2026), tidak ada satu tes tunggal untuk ADHD. Pemeriksaan mencakup pemeriksaan medis termasuk pendengaran dan penglihatan, serta informasi dari orang tua dan guru tentang perilaku anak di rumah, di sekolah, dan bersama teman. Kondisi lain seperti gangguan tidur dan kecemasan bisa mirip, jadi tenaga profesional juga menelusuri kemungkinan itu.
Sebelum datang, siapkan catatan selama dua minggu: kapan anak gelisah, di mana, apa yang terjadi sebelumnya, dan laporan dari guru. Catatan itu membantu dokter lebih cepat melihat polanya.
Langkah di rumah tidak menggantikan pemeriksaan, tetapi kebiasaan dasar membantu semua anak.
Hal yang sebaiknya dihindari: menyimpulkan sendiri dari video atau tes online, membandingkan anak dengan saudara, dan memarahi anak karena tidak bisa diam. Tes online tidak bisa menggantikan pemeriksaan tenaga profesional. Kalau anak sering kecanduan gawai dan tampak gelisah saat dilarang, baca anak kecanduan HP.
Menurut IDAI, sebagian besar anak dengan GPPH dapat belajar normal, terutama bila mendapat penanganan yang memadai. Jadi pemeriksaan yang cepat justru membuka jalan bantuan yang tepat.
Anak yang sulit duduk tenang tetap bisa belajar, dan sesi yang pendek dengan jeda biasanya lebih mudah diikuti.
Kalau anak gelisah karena ada materi matematika yang tertinggal, pelajaran yang terasa terlalu sulit bisa terlihat seperti tidak mau fokus. Di Algonova, kelas matematika online berlangsung live dalam grup maksimal 10 anak, dengan durasi 45, 60, atau 90 menit dan harga mulai Rp 102.000 per pertemuan. Pertemuan pertama berupa tes diagnostik gratis sekitar 60 menit untuk melihat materi mana yang perlu diperkuat di program matematika anak SD.
Les tidak menggantikan pemeriksaan dokter atau psikolog. Kalau Anda khawatir tentang perkembangan anak, bicarakan dulu dengan tenaga profesional, lalu pilih bentuk les yang cocok. Kalau anak takut pada pelajaran tertentu, anak takut matematika memberi langkah yang bisa dicoba.
Hiperaktif adalah perilaku terlalu banyak bergerak, gelisah, atau sulit diam yang berlebihan dibandingkan anak seusianya. Hiperaktif bukan diagnosis, melainkan gambaran perilaku. Ia bisa muncul karena banyak hal, misalnya kurang tidur, kurang bergerak, atau cemas, dan juga bisa menjadi salah satu tanda ADHD. Karena itu penilaiannya perlu melihat seberapa sering, di mana saja, berapa lama, dan dampaknya. Hanya dokter anak, psikolog, atau psikiater anak yang bisa menilai apakah ada gangguan.
ADHD adalah gangguan perkembangan yang ditandai sulit memusatkan perhatian, hiperaktif, dan impulsif yang berlangsung lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Di Indonesia disebut GPPH. Menurut American Psychiatric Association, gejalanya muncul sejak masa kanak-kanak dan harus terlihat jelas minimal 6 bulan. Ada tiga tampilan: dominan sulit memusatkan perhatian, dominan hiperaktif dan impulsif, atau gabungan. Diagnosisnya dibuat oleh tenaga profesional dengan melihat perilaku anak di berbagai tempat.
Banyak anak seusia itu memang aktif, dan itu belum tentu tanda gangguan. CDC mencatat bahwa wajar bila anak sesekali sulit fokus dan sulit mengatur perilaku. Yang perlu diperhatikan adalah pola: sering, di banyak tempat, dan mengganggu belajar atau pertemanan. Kalau Anda ragu, catat perilaku anak selama dua minggu dan bicarakan dengan dokter anak. Pemeriksaan tidak berarti anak pasti punya gangguan.
Tidak bisa dipastikan hilang sendiri, karena pada banyak anak gejalanya berlanjut sampai remaja dan dewasa. Menurut CDC dan NIMH, anak dengan ADHD tidak sekadar tumbuh keluar dari perilaku itu, dan gejalanya bisa berlanjut sampai usia remaja. Karena itu pemeriksaan yang tepat waktu penting, supaya anak mendapat bantuan sesuai kebutuhannya. Jangan menunda hanya dengan harapan anak akan berubah sendiri kalau gejalanya sudah mengganggu.
Dokter anak, psikolog, atau psikiater anak. Menurut CDC, diagnosis dibuat oleh tenaga kesehatan mental atau dokter layanan primer seperti dokter anak. IDAI juga menyebut dokter spesialis anak, psikolog, dan psikiater anak. Prosesnya biasanya melibatkan pemeriksaan medis, informasi dari orang tua dan guru, dan penelusuran kondisi lain yang mirip. Mulailah dari dokter anak langganan Anda, yang bisa merujuk ke psikolog atau psikiater anak bila perlu.
Tes online tidak bisa menggantikan pemeriksaan, karena tidak ada satu tes tunggal untuk ADHD. CDC menjelaskan pemeriksaan mencakup pemeriksaan medis, informasi dari orang tua dan guru, serta penelusuran kondisi lain seperti gangguan tidur dan kecemasan. Kuesioner online hanya melihat sebagian kecil gambaran itu. Kuesioner boleh dipakai sebagai bahan catatan untuk dibawa ke dokter, tetapi jangan dipakai untuk menyimpulkan sendiri.
Sebagian besar anak dengan GPPH bisa belajar secara normal, terutama bila mendapat penanganan yang memadai, menurut IDAI. Dukungan dari sekolah dan keluarga juga berperan. Beri instruksi pendek, jeda gerak, dan lingkungan belajar yang tenang. Kalau anak punya kesulitan belajar lain, tim profesional bisa membantu menelusurinya. Hindari label bodoh, malas, atau nakal, karena label itu merugikan anak.
Mulailah dengan bertanya apa yang guru lihat di kelas, bukan dengan menyebut diagnosis. Tanyakan kapan anak gelisah, dalam pelajaran apa, dan bagaimana ia dengan teman. Bagikan catatan Anda dari rumah, lalu bandingkan polanya. Kalau pola serupa muncul di dua tempat, itu bahan penting untuk dokter. Mintalah guru menuliskan contoh konkret, misalnya tanggal dan situasi, supaya dokter punya gambaran yang jelas.
Les bisa membantu kalau kesulitannya ada di materi, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan dokter atau psikolog. Sesi singkat dengan jeda dan guru yang memperhatikan anak lebih mudah diikuti. Di Algonova, kelas online berlangsung live dengan grup maksimal 10 anak, dan kami tidak membuat diagnosis medis apa pun. Kalau kekhawatiran Anda soal perilaku, bicaralah dulu dengan dokter anak. Les bisa dipilih setelah itu, dimulai dengan tes diagnostik gratis sekitar 60 menit.
Blog