Cara Memilih Bimbel Online Terbaik untuk Anak SD: 9 Hal yang Wajib Dicek

Belajar Coding

Fajar Hidayat
Tim Kurikulum Coding Algonova

Cara membuat game dengan AI yang paling aman untuk anak adalah membagi peran: AI membantu menyusun ide dan menjelaskan langkah, sedangkan anak merakit sendiri game-nya di Scratch. Anak usia 8-12 tahun bisa menyelesaikan satu game sederhana dalam sekitar 90 menit. ChatGPT baru boleh dipakai mulai umur 13 tahun, jadi untuk anak SD aturannya sederhana: orang tua memegang akun AI, anak memegang mouse.
AI bisa menulis kode game sederhana dalam hitungan detik, tetapi sering keliru saat diminta mengubah game, jadi anak tetap perlu memahami logika di baliknya.
Minta ChatGPT membuat game tebak angka, dan Anda akan mendapat kode Python yang sering langsung jalan. Canva Code bahkan bisa membuat kuis interaktif dari satu kalimat perintah.
Masalahnya muncul saat game ingin diubah. AI tidak melihat layar anak, jadi ia kadang menyebut blok Scratch yang tidak ada atau keliru soal arah gerak. Anak yang tidak paham logika di balik game akan berhenti di sini: game hampir jadi, tapi tidak bisa diperbaiki.
Karena itu, peran AI yang paling berguna untuk anak adalah teman diskusi yang sabar. Game-nya tetap dirakit anak, supaya ia mengerti setiap bagian yang ia buat.
Aplikasi AI untuk membuat game yang paling dikenal yaitu ChatGPT, Gemini, dan Canva Code, punya batas umur 13 tahun, jadi anak SD bisa menggunakannya bersama orang tua atau guru.
Tiga tools lainnya dibuat khusus untuk pelajar dan lebih aman dipakai anak.
| Tools | Apa yang dikerjakan AI | Aturan umur | Untuk anak 8-12 tahun |
|---|---|---|---|
| Scratch | Tidak ada AI generatif bawaan. Ini tempat anak merakit game dari blok | Gratis. Anak di bawah 16 tahun perlu email orang tua untuk konfirmasi akun | Anak memakai sendiri |
| Code.org Dance Party: AI Edition | Emoji pilihan anak menjadi prompt untuk efek visual tarian | Dirancang untuk kelas 3-12 | Anak memakai sendiri, cocok untuk latihan |
| Machine Learning for Kids | Anak melatih model AI sederhana dengan contoh, lalu menggunakannya di Scratch | Gratis. Mode "Try it now" tanpa akun, tapi hasil tidak tersimpan | Dengan pendampingan |
| ChatGPT | Menyusun rencana game, menjelaskan langkah, membantu mencari kesalahan | Minimal 13 tahun. Di bawah 18 tahun perlu izin orang tua | Dari akun orang tua |
| Gemini | Sama seperti ChatGPT | Akun pribadi mulai 13 tahun. Di bawah 13 tahun hanya jika orang tua mengaktifkannya lewat Family Link | Lewat Family Link atau akun orang tua |
| Canva Code | Membuat kuis atau game interaktif dari perintah teks | Di bawah 13 tahun hanya lewat Canva untuk pendidikan | Bersama orang tua atau guru |
Google sendiri menulis di halaman bantuan Gemini untuk anak bahwa filter kontennya belum sempurna dan anak perlu diingatkan bahwa Gemini adalah alat, bukan teman curhat. Daftar yang lebih lengkap ada di artikel tools AI yang aman untuk anak. Aturan menggunakan chatbot di rumah kami bahas di ChatGPT untuk anak: panduan orang tua.
Membuat game sederhana dengan AI butuh 5 langkah dan waktu sekitar 90 menit: ide di kertas, rencana dari AI, rakit di Scratch, uji, lalu tambah fitur.
Proyek kali ini adalah game "Tangkap Apel". Apel jatuh dari atas, anak menggerakkan keranjang ke kiri dan kanan, dan setiap apel yang tertangkap menambah skor. Siapkan laptop, akun Scratch anak, dan ChatGPT atau Gemini di akun orang tua.

Sebelum membuka AI, minta anak menulis di kertas: siapa tokohnya, apa tujuannya, dan kapan game selesai. Contoh jawabannya: tokohnya keranjang, tujuannya menangkap 10 apel, dan pemain kalah kalau 3 apel jatuh ke tanah. Anak yang punya rencana sendiri akan memakai AI sebagai penolong, dan rencana itu tetap miliknya.
Orang tua membuka ChatGPT atau Gemini, anak mendiktekan idenya. Minta AI memecah game menjadi langkah kecil dan menjelaskan setiap langkahnya satu per satu. Contoh kalimat perintahnya ada di bagian selanjutnya.
Anak menyusun blok mengikuti rencana dari AI, langkah demi langkah. Dasarnya, seperti membuat sprite (karakter di Scratch), menggerakkan karakter dengan tombol panah, dan membuat sistem skor, sudah kami bahas di panduan cara membuat game di Scratch.
Setiap kali macet, anak menjelaskan masalahnya ke AI dengan kata-katanya sendiri. Saran dari AI dicoba dulu di Scratch, dan baru digunakan kalau memang berhasil.
Di tahap ini biasanya terlihat bahwa AI juga bisa salah. Contoh ilustrasi: AI menyuruh apel "jatuh" dengan menambah nilai y.
Padahal di Scratch nilai y makin kecil makin ke bawah, dari 180 di tepi atas stage sampai -180 di tepi bawah. Akibatnya apel malah terbang ke atas.
Saat anak menemukan sendiri penyebabnya, ia sedang belajar debugging. Programmer melakukan hal yang sama setiap hari: mencoba, melihat hasilnya, lalu memperbaiki.
Minta AI memberi beberapa ide, lalu biarkan anak memilih satu: suara saat apel tertangkap, apel yang jatuh makin cepat, atau apel busuk yang mengurangi skor. Untuk anak yang penasaran dengan AI di dalam game, akhir pekan berikutnya bisa mencoba Machine Learning for Kids. Di sana anak melatih model mengenali kata, lalu model itu menggerakkan sprite di Scratch.
Setelah game pertama selesai, anak bisa memakai cara yang sama untuk proyek berikutnya. Pilihan temanya ada di daftar ide proyek Scratch untuk anak SD.
Prompt AI untuk membuat game sebaiknya berisi empat hal: peran AI, ide game, alat yang dipakai, dan perintah agar AI menjelaskan satu langkah lalu berhenti.
Bagian terakhir paling penting. Tanpa perintah itu, AI cenderung langsung menulis semua langkah sekaligus, dan anak tinggal menyalin.
Prompt untuk rencana:
Kamu guru coding untuk anak 10 tahun. Kami ingin membuat game "Tangkap Apel" di Scratch: keranjang digerakkan dengan tombol panah, apel jatuh dari atas, skor bertambah kalau apel tertangkap. Pecah game ini menjadi 6 langkah kecil. Jelaskan langkah 1 saja dengan bahasa sederhana, lalu tunggu instruksi selanjutnya dari kami.
Prompt saat macet:
Apel di game kami tidak jatuh, malah naik ke atas. Ini blok yang kami pakai: [tulis bloknya]. Jangan beri jawaban langsung. Beri satu petunjuk supaya anak bisa menemukan sendiri kesalahannya.
Prompt untuk ide fitur:
Beri 5 ide supaya game "Tangkap Apel" lebih seru. Setiap ide harus bisa dibuat anak pemula di Scratch dalam 15 menit.
Kalimat "jangan beri jawaban langsung" membuat AI memberi petunjuk seperti guru, sehingga anak tetap berpikir sendiri. Latihan menulis perintah seperti ini kami bahas di artikel belajar prompt untuk anak.
Risiko utama saat anak membuat game dengan AI ada empat: data pribadi bocor, aturan umur dilanggar, kode salah, dan game jadi tanpa dipahami.
Data pribadi. Ajarkan satu aturan: jangan menulis nama lengkap, nama sekolah, alamat, nomor telepon, atau mengupload foto wajah ke chatbot. Untuk membuat game, AI tidak membutuhkan semua itu.
Umur minimal. ChatGPT mensyaratkan pengguna minimal berusia 13 tahun dan izin orang tua sampai usia 18 tahun. Gemini untuk anak di bawah 13 tahun harus diaktifkan orang tua lewat Family Link, dan Canva untuk usia tersebut hanya lewat versi pendidikan. Kalau anak belum cukup umur, AI bisa dipakai di akun orang tua saat orang tua ada di sebelahnya.
Kesalahan kode. AI menjawab dengan nada yakin, juga saat jawabannya salah. Biasakan anak menguji setiap saran di Scratch sebelum memercayainya.
Game jadi tanpa paham isinya. Canva Code dan tools sejenis bisa langsung memberi game utuh, jadi membuat game tanpa coding memang mungkin. Tapi saat anak ingin menambah level, ia hanya bisa meminta ulang ke AI dan berharap hasilnya cocok. Kendala yang sama muncul saat membuat aplikasi tanpa coding.
UNICEF dalam panduan tentang AI dan anak meminta agar sistem AI yang dipakai anak menjaga keamanan dan privasi mereka. Di rumah, bentuk paling sederhananya adalah orang tua yang ikut duduk dan sesekali bertanya, "Coba jelaskan, kenapa blok ini kamu pakai?"
Belajar coding tetap penting di era AI karena anak yang paham variabel, pengulangan, dan kondisi bisa memeriksa dan memperbaiki jawaban AI sendiri.

AI mempercepat kerja orang yang sudah paham apa yang ia buat. Anak yang belum mengerti dasarnya hanya bisa menyalin dan berharap hasilnya benar.
Jalur yang masuk akal untuk anak 8-12 tahun dimulai dari Scratch untuk logika dasar, baru kemudian memakai AI dengan kesadaran. Untuk anak kelas 3-6, les coding anak SD di Algonova dimulai dari Scratch dan game sederhana. Di Kelas AI untuk anak Algonova, anak memahami cara kerja AI, membuat proyek dengan AI, lalu lanjut ke Python. Urutan lengkapnya dari Scratch sampai proyek AI pertama ada di jalur belajar AI untuk anak.
Anak usia 10-14 tahun yang lebih suka merancang game bisa masuk kelas Game Design di Roblox Studio. Di sana ia bisa menyusun aturan main, level, dan skrip sampai game-nya bisa dimainkan oleh teman-temannya. Gambaran awalnya ada di artikel cara membuat game di Roblox Studio untuk pemula.
Semua kelas berlangsung online secara live bersama tutor, dengan grup berisi maksimal 10 anak, durasi 45, 60, atau 90 menit, mulai Rp 102.000 per pertemuan. Algonova sudah diikuti oleh 1.000.000+ siswa di 97 negara dengan rating 4,9 dari orang tua. Untuk melihat apakah anak cocok dengan bidang ini, ikuti dulu kelas trial gratis selama 60 menit.
Bisa, tools seperti Canva Code dapat membuat game sederhana dari satu perintah teks, tapi anak akan kesulitan mengubah game itu tanpa memahami logika coding. Contohnya, anak 11 tahun meminta AI membuat kuis tebak hewan dan hasilnya langsung bisa dimainkan. Masalah muncul saat ia ingin menambah skor atau level kedua. Karena tidak tahu bagian mana yang mengatur skor, ia hanya bisa meminta ulang dan berharap AI tidak merusak bagian yang sudah benar. Hal yang sama terjadi saat ia ingin mengganti gambar tokoh atau menambah suara. Setelah tiga atau empat kali mencoba, banyak anak menyerah dan meninggalkan game-nya. Anak yang pernah merakit game di Scratch biasanya lebih cepat memperbaiki hasil AI, karena ia sudah mengenal variabel, pengulangan, dan kondisi. Satu proyek kecil seperti game "Tangkap Apel", dengan lama pembuatan sekitar 90 menit, sudah cukup sebagai langkah pertama.
Untuk anak usia 8-12 tahun, kombinasi yang paling aman adalah Scratch untuk merakit game dan ChatGPT atau Gemini di akun orang tua sebagai teman diskusi. Pilihan lain bisa digunakan sesuai tujuan. Code.org Dance Party: AI Edition untuk kelas 3-12 cocok sebagai pemanasan, karena emoji pilihan anak diubah AI menjadi efek visual. Machine Learning for Kids mengajak anak melatih model AI sederhana lalu memakainya di Scratch. Canva Code membuat kuis interaktif dari perintah teks, tapi anak di bawah 13 tahun hanya boleh memakainya lewat versi pendidikan. Mulailah dari satu tools dulu, lalu tambah tools lain setelah anak menyelesaikan game pertamanya. Untuk game 3D, Roblox Studio punya asisten AI bernama Assistant yang bisa membuat skrip sederhana dari permintaan teks. Asisten ini bekerja langsung di dalam Studio, jadi skrip yang dibuatnya bisa langsung dicoba di game anak.
Tools AI cukup aman untuk anak jika dipakai sesuai batas usianya, dari akun yang tepat, dan dengan orang tua ikut mendampingi. Risiko yang paling sering muncul adalah anak menuliskan data pribadinya ke chatbot, menerima jawaban yang tidak sesuai usianya, atau terlalu percaya pada jawaban yang salah. Google sendiri mengakui filter konten Gemini untuk anak belum sempurna. Karena itu, aturan rumah sebaiknya jelas dan ditulis bersama anak. Misalnya, AI hanya dipakai di ruang keluarga, tidak boleh menulis nama sekolah atau alamat, dan anak bercerita jika menemukan jawaban yang aneh. Scratch dan Code.org dirancang khusus untuk anak, jadi keduanya bisa dipakai anak SD sendiri dengan pengawasan ringan. Untuk chatbot, akses sebaiknya tetap dipegang orang tua: Gemini untuk anak di bawah 13 tahun hanya aktif jika orang tua menyalakannya lewat Family Link.
ChatGPT mensyaratkan pengguna minimal 13 tahun, dan Gemini untuk anak di bawah 13 tahun hanya bisa dipakai jika orang tua mengaktifkannya lewat Family Link. Pengguna ChatGPT di bawah 18 tahun juga perlu izin orang tua. Aturan ini tertulis di ketentuan resmi OpenAI dan di halaman bantuan Google. Untuk Gemini, akun pribadi biasa baru boleh dipakai mulai usia 13 tahun. Akses anak yang usianya di bawah 13 tahun diatur sepenuhnya oleh orang tua dan bisa dimatikan kapan saja dari aplikasi Family Link. Batas umur ini ada karena layanan tersebut memproses data pengguna, dan anak belum bisa menyetujui hal itu sendiri. Canva memakai pola serupa: anak di bawah 13 tahun hanya boleh memakai Canva lewat Canva untuk pendidikan. Untuk anak usia 8-12 tahun, cara paling praktis adalah memakai ChatGPT atau Gemini dari akun orang tua, dengan orang tua yang mengetik atau mengawasi layar.
Prompt untuk membuat game sebaiknya berisi peran AI, ide game, alat yang dipakai, dan cara AI harus menjawab, misalnya satu langkah sekali jalan. Contoh prompt yang bekerja dengan baik: "Kamu guru coding untuk anak 10 tahun. Kami ingin membuat game Tangkap Apel di Scratch. Pecah menjadi 6 langkah kecil, jelaskan langkah 1 saja, lalu tunggu instruksi selanjutnya dari kami." Saat macet, tambahkan kalimat "jangan beri jawaban langsung, beri satu petunjuk". Dengan begitu anak tetap berpikir sendiri dan tidak hanya menyalin. Jika jawaban AI terlalu panjang, minta ulang dengan kalimat "jelaskan dalam 3 kalimat untuk anak 10 tahun". Sebutkan juga umur anak dan nama alatnya, supaya AI memakai istilah yang cocok, misalnya nama blok Scratch dan bukan kode Python. Makin jelas ide di kertas sebelum membuka AI, makin sedikit jawaban AI yang perlu diperbaiki.
Bisa, game Scratch dan kuis dari Canva Code dibuka lewat browser, jadi umumnya bisa dimainkan di HP, walaupun proses membuatnya lebih nyaman di laptop. Game Scratch yang dikendalikan tombol panah akan sulit dimainkan di layar sentuh, karena HP tidak punya tombol panah. Kalau anak ingin game-nya dimainkan teman lewat HP, ajak ia mengganti kontrolnya, misalnya keranjang mengikuti jari atau mouse. Mengubah kontrol seperti ini juga latihan logika yang bagus, karena anak harus memikirkan ulang cara pemain berinteraksi dengan game. Coba juga game-nya di HP sebelum dibagikan, supaya ukuran tombol dan tulisan tetap nyaman dilihat. Untuk membagikan game di komunitas Scratch, akun anak harus dikonfirmasi dulu lewat email orang tua. Untuk merakit game, laptop atau komputer tetap pilihan terbaik, karena layar besar memudahkan anak menyusun blok dan membaca petunjuk AI.
Kekurangan utamanya: AI bisa memberi instruksi yang salah dengan nada sangat yakin, dan anak yang belum paham logika tidak bisa membedakan saran yang benar dan yang keliru. Contoh ilustrasi di Scratch: AI menyuruh apel jatuh dengan menambah nilai y, padahal di Scratch nilai y makin kecil makin ke bawah. AI juga kadang menyebut blok yang tidak ada. Kekurangan lain, game yang dibuat utuh oleh AI terasa bukan milik anak, sehingga ia cepat bosan dan jarang mengembangkannya. AI juga tidak tahu versi Scratch atau perangkat yang dipakai anak, jadi petunjuknya kadang tidak cocok dengan layar di depannya. Ada juga persoalan batas usia: anak di bawah 13 tahun tetap memakai AI lewat orang tua, jadi ia tidak bisa bekerja sepenuhnya sendiri. Kesalahan AI justru bisa menjadi bahan belajar, asalkan anak diajak menguji setiap saran dan mencari sendiri penyebabnya.
Logika coding membuat anak bisa membaca dan memperbaiki hasil AI, sehingga anak yang memegang kendali atas game-nya, sementara AI hanya mempercepat pekerjaan. Ambil contoh game "Tangkap Apel". Anak yang memahami variabel tahu di mana skor disimpan, dan anak yang memahami pengulangan tahu kenapa apel terus jatuh. Anak yang memahami kondisi tahu blok mana yang memeriksa apakah apel menyentuh keranjang. Saat game tidak berakhir setelah 3 apel lolos, ia tahu harus memeriksa blok kondisi. Tanpa pemahaman ini, setiap masalah kecil harus ditanyakan ulang ke AI, dan hasilnya belum tentu benar. Kemampuan memecah masalah seperti ini juga terpakai di matematika dan pelajaran lain. Di Algonova, anak memulai logika dasar lewat Scratch, lalu lanjut ke Python dan proyek AI di kelas online secara live bersama guru, dengan grup berisi maksimal 10 anak, mulai Rp 102.000 per pertemuan.
Bisa, Roblox Studio punya asisten AI bernama Assistant yang bisa membuat skrip sederhana dari permintaan teks, misalnya membuat karakter melompat saat menyentuh sebuah balok. Assistant juga bisa menjelaskan kode Luau yang sudah ada, sehingga berguna untuk anak yang sedang belajar. Dokumentasi Roblox menyebut Assistant bisa memasukkan aset dari Creator Store dan membuat model 3D sederhana. Tetap saja, skrip dari AI perlu diuji, karena belum tentu cocok dengan dunia game yang dibuat anak. Roblox juga mensyaratkan izin orang tua untuk pengguna di bawah 13 tahun, jadi pendampingan tetap diperlukan. Perlu diingat juga bahwa Roblox Studio hanya berjalan di komputer, bukan di HP atau tablet. Untuk anak usia 10-14 tahun yang ingin serius merancang game di Roblox Studio, kelas Game Design Algonova mengajarkan aturan main, level, dan scripting dari nol.
Orang tua cukup duduk di sebelah anak, memegang akun AI, dan rutin meminta anak menjelaskan alasan di balik setiap langkah yang ia ambil. Contoh pembagian peran yang berjalan baik: anak mendiktekan ide, orang tua mengetik prompt, anak merakit blok di Scratch, lalu orang tua bertanya "kenapa blok ini kamu pakai?". Pertanyaan sederhana ini membuat anak ikut berpikir tentang kodenya. Orang tua tidak perlu bisa coding, karena tugasnya menjaga keamanan dan mengajak anak berpikir. Satu sesi 60 sampai 90 menit di akhir pekan sudah cukup untuk satu proyek kecil seperti game "Tangkap Apel". Buat juga aturan waktu yang jelas, misalnya AI hanya dibuka saat sesi proyek dan tidak dipakai untuk mengobrol bebas. Jika anak ingin belajar lebih jauh, kelas trial gratis selama 60 menit di Algonova bisa menjadi langkah awal bersama tutor sungguhan.
Blog


