Belajar Matematika

12 menit

Soal Cerita Matematika SD: Kenapa Anak Bingung dan Cara Melatihnya

Dipublikasikan: 26.10.2026·Diperbarui: 26.10.2026
Nadia Rahmawati

Nadia Rahmawati

Tim Kurikulum Matematika Algonova

Soal Cerita Matematika SD: Kenapa Anak Bingung dan Cara Melatihnya

Soal cerita matematika SD paling sering gagal di tahap membaca, bukan di tahap menghitung. Anak yang lancar menjawab 18 − 9 bisa salah total ketika angka yang sama muncul dalam cerita tentang kelereng atau uang jajan. Panduan ini untuk orang tua anak kelas 1-6: 6 penyebab anak bingung, 4 langkah mengerjakan, contoh soal yang dibahas, dan latihan 15 menit sehari di rumah.

Kenapa anak bingung mengerjakan soal cerita?

Anak bingung karena soal cerita menuntut dua kemampuan sekaligus: memahami bacaan dan memilih operasi hitung. Kalau salah satunya lemah, jawabannya ikut salah. Penelitian Setiyoko (2016) pada 84 siswa kelas IV di Kulon Progo menemukan bahwa kemampuan membaca pemahaman berpengaruh 50,4% terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita (Jurnal PGSD UNY).

PenyebabTanda yang terlihat di rumahYang bisa dicoba
Membaca belum lancarmembaca soal terputus-putus, lupa isi kalimat pertamabacakan soal dulu, lalu minta anak membaca ulang
Tidak tahu apa yang ditanyakanmenghitung semua angka yang adaminta anak menunjuk kalimat pertanyaan
Terpaku kata kunci"lebih" selalu ditambah, "sisa" selalu dikurangtanyakan "ceritanya bertambah atau berkurang?"
Soal dua langkahberhenti setelah hitungan pertamatulis "langkah 1" dan "langkah 2" di kertas
Angka pengecohmemakai angka yang tidak dibutuhkancoret informasi yang tidak dipakai
Fakta dasar belum otomatislama sekali di perkalian sederhanalatih fakta hitung terpisah, 5 menit sehari

Studi kasus di SDN IV Wonogiri menunjukkan pola yang mirip: siswa kelas IV kesulitan memahami kalimat soal dan mengubah persoalan sehari-hari ke dalam bahasa matematika (eprints UMS). Masalahnya tidak hilang sendiri saat anak besar. Dalam PISA 2022, hanya 18% siswa usia 15 tahun di Indonesia mencapai Level 2 matematika, tingkat ketika siswa mulai bisa mengenali cara menuliskan situasi sederhana secara matematis tanpa petunjuk. Rata-rata negara OECD 69%.