Belajar Coding

12 menit

Ekskul Robotik di SD: Apa yang Dipelajari dan Bedanya dengan Les Coding

Dipublikasikan: 21.10.2026·Diperbarui: 21.10.2026
Fajar Hidayat

Fajar Hidayat

Tim Kurikulum Coding Algonova

Ekskul Robotik di SD: Apa yang Dipelajari dan Bedanya dengan Les Coding

Ekskul robotik di SD adalah kegiatan sepulang sekolah, biasanya sekali seminggu selama 60-90 menit, tempat anak 8-12 tahun merakit robot kecil lalu memprogramnya supaya bergerak sendiri. Sebagian besar waktunya dipakai untuk merakit dan menguji. Pemrogramannya memakai blok visual yang mirip Scratch. Les coding mengambil bagian pemrograman itu saja dan mendalaminya, tanpa kit robot.

Ekskul robotik adalah apa?

Ekskul robotik adalah kegiatan ekstrakurikuler tempat anak membangun robot dari kit, lalu menulis program agar robot itu menjalankan tugas. Di SD, kegiatannya hampir selalu berkelompok: dua atau tiga anak berbagi satu kit, satu pelatih memegang satu kelas.

Pelatihnya bisa guru sekolah, bisa juga lembaga luar yang dikontrak sekolah. Perbedaan ini penting, karena biaya dan kualitas ekskul sering ditentukan oleh siapa yang mengajar. Arti kata robotika sendiri kami jelaskan di kamus apa itu robotika.

Ekskul berbeda dengan mata pelajaran. Sejak tahun ajaran 2025/2026, Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) masuk kurikulum sebagai mata pelajaran pilihan mulai kelas 5 SD, menurut Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 (detikNews). KKA diajarkan di jam pelajaran dan tidak mewajibkan robot. Ekskul robotik tetap kegiatan tambahan yang dipilih anak. Status KKA di sekolah Anda bisa dicek lewat panduan koding dan AI: wajib atau pilihan.

Apa yang dipelajari anak di ekskul robotik SD

Anak belajar merakit, memasang motor dan sensor, lalu memprogram robot dengan blok. Urutannya di kebanyakan ekskul SD kurang lebih begini:

  1. Merakit model sederhana: mobil, kipas, atau lengan dari balok dan roda. Anak belajar membaca gambar rakitan.
  2. Menggerakkan motor. Program pertamanya biasanya maju 2 detik, belok kanan, berhenti.
  3. Membaca sensor. Sensor jarak membuat robot berhenti sebelum menabrak. Sensor warna membuat robot mengikuti garis hitam (line follower).
  4. Memakai logika: perintah "jika... maka..." dan pengulangan. Di tahap ini robot mulai mengambil keputusan sendiri.
  5. Misi dan lomba. Robot harus menyelesaikan tugas di arena, misalnya memindahkan balok ke kotak berwarna.

Contoh: Bima, kelas 4, butuh tiga pertemuan untuk membuat robotnya mengikuti garis. Merakitnya hanya 20 menit. Sisanya habis untuk mencari kenapa robot selalu keluar jalur di tikungan. Ternyata nilai sensor warnanya terlalu sensitif. Mencari kesalahan seperti ini disebut debugging, dan justru inilah yang dibawa pulang anak.

Yang jarang dibahas: di kelompok bertiga, anak yang paling cepat sering memegang laptop terus, sementara dua temannya hanya merakit. Tanyakan ke anak siapa yang menulis program minggu ini.