
Edukasi Coding
Apa Itu Cyberbullying: Pengertian, Bentuk, dan Cara Menghadapinya

Bayu Nugraha
Spesialis Coding Anak

Cyberbullying adalah perundungan yang dilakukan lewat perangkat digital secara berulang, dengan maksud menyakiti, mempermalukan, atau mengucilkan seseorang.
Daftar Isi
- Bentuk-Bentuk Cyberbullying
- Kenapa Lebih Berat daripada Perundungan Biasa
- Tanda yang Bisa Dikenali Orang Tua
- Langkah yang Harus Diambil
Kata kuncinya adalah berulang dan disengaja. Satu komentar kasar yang terjadi sekali biasanya bukan cyberbullying, meski tetap tidak pantas. Yang membedakan adalah polanya yang terus-menerus dan ketimpangan posisi antara pelaku dan korban.
Bentuk-Bentuk Cyberbullying
| Bentuk | Contohnya |
|---|---|
| Penghinaan | Komentar merendahkan yang dikirim berulang lewat pesan atau media sosial |
| Pengucilan | Sengaja mengeluarkan seseorang dari grup kelas atau permainan daring |
| Penyebaran aib | Membagikan foto, tangkapan layar, atau rahasia tanpa izin |
| Peniruan identitas | Membuat akun palsu atas nama korban untuk mempermalukannya |
| Pengintaian | Terus mengikuti dan mengomentari setiap aktivitas daring korban |
Bentuk yang paling sering luput dari perhatian orang tua adalah pengucilan, karena tidak meninggalkan jejak berupa kata-kata kasar. Anak hanya perlahan menghilang dari grup dan permainan tempat teman-temannya berkumpul.
Kenapa Lebih Berat daripada Perundungan Biasa
Tiga hal membuatnya berbeda dari perundungan di sekolah.
Tidak ada tempat aman. Perundungan di sekolah berhenti saat bel pulang berbunyi. Cyberbullying mengikuti anak sampai ke kamarnya lewat ponsel.
Jejaknya bertahan. Tangkapan layar bisa disimpan dan disebarkan lagi berbulan-bulan kemudian, sehingga korban tidak pernah benar-benar merasa peristiwanya berakhir.
Penontonnya banyak dan pelakunya bisa bersembunyi. Satu unggahan bisa dilihat seluruh angkatan, sementara pelaku bisa memakai akun anonim.
Tanda yang Bisa Dikenali Orang Tua
Anak yang mengalami cyberbullying jarang bercerita lebih dulu, biasanya karena takut ponselnya disita. Karena itu tanda yang terlihat lebih dulu adalah perubahan perilaku.
- Menjadi murung, gelisah, atau marah setelah membuka ponsel.
- Tiba-tiba menghindari perangkat yang sebelumnya ia sukai, atau sebaliknya memeriksanya terus-menerus.
- Menutup layar buru-buru saat orang tua mendekat.
- Menarik diri dari teman, atau menolak berangkat ke sekolah.
- Perubahan pola tidur dan nafsu makan.
Tanda-tanda ini tidak otomatis berarti cyberbullying, tetapi selalu berarti ada sesuatu yang perlu ditanyakan dengan tenang.
Langkah yang Harus Diambil
- Dengarkan lebih dulu, jangan langsung menyita ponsel. Menyita perangkat terasa seperti hukuman bagi korban, dan itulah alasan utama anak memilih diam.
- Simpan buktinya. Tangkapan layar berisi nama akun, isi pesan, dan tanggalnya, sebelum apa pun dihapus.
- Jangan membalas. Balasan hampir selalu memperpanjang dan memperbesar masalah.
- Blokir dan laporkan lewat platformnya. Semua media sosial besar punya tombol laporan untuk perundungan.
- Libatkan sekolah kalau pelakunya teman sekelas, dan hubungi layanan perlindungan anak kalau ada ancaman kekerasan.
Langkah pencegahan terbaik bukan pengawasan ketat, melainkan kesepakatan bahwa anak boleh bercerita tanpa kehilangan akses. Anak yang yakin tidak akan dihukum jauh lebih cepat melapor. Untuk konteks yang lebih luas, lihat panduan kami tentang Pola Asuh Anak di Era Digital dan Literasi Digital untuk Anak.

