Cara Mengajar Perkalian pada Anak: 5 Metode yang Terbukti Berhasil

Belajar Matematika

Nadia Rahmawati
Tim Kurikulum Matematika Algonova

Permainan matematika anak SD kelas 1-3 paling efektif kalau memakai benda di rumah: kartu, dadu, uang mainan, dan kancing. Artikel ini berisi 20 game tanpa aplikasi, dikelompokkan per kelas dan per materi: mengenal bilangan, penjumlahan, pengurangan, perkalian awal, dan uang. Setiap game butuh 10-15 menit dan bisa dimainkan bersama anak setelah sekolah.
Permainan dapat membantu karena anak berlatih berhitung berulang kali tanpa merasa sedang diuji, dan permainan matematika anak yang singkat lebih mudah dijalankan setiap hari.
UNICEF Indonesia menyebut belajar lewat bermain sebagai salah satu cara terpenting bagi anak untuk membangun keterampilan. Dalam lokakarya orang tua di Kupang, kardus bekas dan kotak telur sudah cukup menjadi alat belajar. Jadi game matematika tanpa aplikasi pun tidak mustahil untuk direalisasikan, dan tidak perlu mainan yang mahal. IDAI mengingatkan agar mainan dipilih sesuai fase perkembangan anak, jadi permainan di bawah dibagi per kelas.
Siapkan satu kotak berisi kartu angka 1-10, dua dadu, kancing, sedotan, karet gelang, lakban, dan uang mainan. Semua permainan di bawah memakai isi di dalam kotak tersebut.

Untuk permainan matematika anak SD kelas 1, pilih yang sekaligus membuat anak berkenalan dengan bilangan sampai 100, dan tambah-kurang dengan benda yang bisa dipegang. Untuk anak usia 6-7 tahun, ada juga program matematika anak usia 6-7 tahun di Algonova.
Bahan: lakban dan kertas angka 0-20.
Melatih: penjumlahan dan pengurangan di garis bilangan.
Contoh soal: mulai dari 8, maju 5 langkah. Anak mendarat di 13.
Bahan: kancing atau kacang, mangkuk.
Melatih: membilang dan menghitung dengan melompat dua angka.
Contoh soal: Ada 14 kancing. Jika dihitung dengan melompat dua angka, hasilnya 7 langkah atau 7 kelompok yang masing-masing berisi 2 kancing.
Bahan: kartu angka 1-10.
Melatih: membandingkan bilangan dan mengurangi.
Contoh soal: kartu 7 melawan kartu 4. Selisihnya 3.
Bahan: kartu angka 1-9.
Melatih: pasangan bilangan yang berjumlah 10.
Contoh soal: kartu 6 berpasangan dengan 4, karena 6 + 4 = 10.
Bahan: dua dadu, kertas skor.
Melatih: penjumlahan sampai 12 dan kelancaran menghitung.
Contoh soal: dadu menunjukkan 5 dan 4. Jumlahnya 9.
Bahan: 10 kancing sebagai uang.
Melatih: pengurangan dalam soal cerita.
Contoh soal: punya 10 kancing, membeli permen seharga 3 kancing. Sisanya 7 kancing.
Bahan: kertas dan pensil.
Melatih: urutan bilangan sampai 100 dan perbandingan.
Contoh soal: petunjuk "lebih dari 60, kurang dari 65, satuannya 3". Bilangannya 63.
Di kelas 2 SD, game yang paling berguna melatih nilai tempat, uang, pengurangan dengan meminjam, dan pengukuran.
Bahan: sedotan dan karet gelang.
Melatih: nilai tempat puluhan dan satuan.
Contoh soal: 3 ikat sedotan dan 4 sedotan yang tidak diikat adalah bilangan 34.
Bahan: kartu angka 0-9.
Melatih: nilai tempat dan pengurangan.
Contoh soal: kartu 3 dan 8. Terbesar 83, terkecil 38, selisihnya 45.
Bahan: uang mainan, barang rumah dengan label harga.
Melatih: penjumlahan uang dan kembalian.
Contoh soal: roti Rp4.000 dan susu Rp3.000. Total Rp7.000. Dibayar dengan uang Rp10.000, kembaliannya Rp3.000.
Bahan: sedotan dan karet gelang seperti game 8.
Melatih: pengurangan bersusun dengan meminjam.
Contoh soal: 42 - 17. Buka satu ikat, lalu ambil 17. Sisanya 25.
Bahan: penggaris, pita ukur, benda di rumah.
Melatih: satuan panjang dan estimasi.
Contoh soal: pensil 15 cm dan buku 21 cm. Selisihnya 6 cm.
Bahan: kertas berisi kotak-kotak 3 x 3, kancing.
Melatih: penjumlahan sampai 100 dengan menyimpan bilangan di kepala.
Contoh soal: 18 + 7. Anak menutup kotak bertuliskan 25.
Bahan: piring kertas, karton, jepit kertas.
Melatih: membaca jam dan menghitung waktu.
Contoh soal: jarum pendek di angka 3 dan jarum panjang di angka 6 menunjukkan pukul 3.30. Satu jam lagi pukul 4.30.
Untuk permainan matematika anak kelas 3, fokuskan pada perkalian, pembagian, dan pecahan sederhana, karena di sinilah anak mulai membutuhkan hafalan sekaligus pemahaman.
Bahan: kancing atau kacang.
Melatih: perkalian sebagai penjumlahan berulang.
Contoh soal: 4 x 6. Anak menyusun 24 kancing.
Bahan: kartu angka 1-10.
Melatih: kelancaran tabel perkalian.
Contoh soal: kartu 7 dan 6. Hasilnya 42.
Bahan: kancing dan piring kecil.
Melatih: pembagian dan sisa pembagian.
Contoh soal: 18 kancing ke 3 piring, masing-masing 6. Kalau 20 kancing, tiap piring 6 dan sisa 2.
Bahan: kertas, krayon.
Melatih: pecahan sederhana dan pecahan senilai.
Contoh soal: lipat jadi 8 bagian, warnai 2. Itu 2/8, sama dengan 1/4.
Bahan: kedua tangan.
Melatih: tabel perkalian 9. Trik lain ada di artikel jarimatika.
Contoh soal: 9 x 4. Ada 3 jari di kiri dan 6 di kanan, jadi 36.
Bahan: uang mainan, barang dengan label harga.
Melatih: perkalian dalam soal cerita dan uang.
Contoh soal: 3 bungkus kue Rp5.000 per bungkus. Total Rp15.000. Dibayar Rp20.000, kembaliannya Rp5.000.
Pilih game dari tabel ini sesuai materi yang sedang dipelajari anak di sekolah.
| Game | Materi | Bahan | Waktu |
|---|---|---|---|
| 1. Lompat Garis Bilangan | Tambah-kurang | Lakban, kertas angka | 10 menit |
| 2. Tebak dan Hitung Kancing | Mengenal bilangan | Kancing, mangkuk | 10 menit |
| 3. Adu Kartu Angka | Membandingkan bilangan | Kartu angka | 10 menit |
| 4. Pasangan Berjumlah Sepuluh | Pasangan 10 | Kartu angka | 10 menit |
| 5. Penjumlahan dengan Dadu | Penjumlahan | Dua dadu | 10 menit |
| 6. Warung Kancing | Pengurangan | Kancing | 10 menit |
| 7. Tebak Bilangan Rahasia | Bilangan sampai 100 | Kertas, pensil | 10 menit |
| 8. Ikat Sedotan Puluhan | Nilai tempat | Sedotan, karet | 15 menit |
| 9. Kartu Nilai Tempat | Nilai tempat | Kartu 0-9 | 10 menit |
| 10. Toko Uang Mainan | Uang | Uang mainan | 15 menit |
| 11. Pinjam Puluhan | Pengurangan meminjam | Sedotan, karet | 10 menit |
| 12. Ukur Rumah | Panjang | Penggaris | 15 menit |
| 13. Bingo Penjumlahan | Penjumlahan | Kertas, kancing | 15 menit |
| 14. Jam Karton | Waktu | Piring kertas, karton | 15 menit |
| 15. Barisan Kancing | Perkalian | Kancing | 10 menit |
| 16. Kartu Perkalian Kilat | Tabel perkalian | Kartu angka | 10 menit |
| 17. Bagi Kue Secara Adil | Pembagian | Kancing, piring | 10 menit |
| 18. Lipat Kertas Pecahan | Pecahan | Kertas, krayon | 15 menit |
| 19. Perkalian 9 dengan Jari | Tabel perkalian 9 | Tangan | 10 menit |
| 20. Pasar Mini | Perkalian dan uang | Uang mainan | 15 menit |
Anak tetap semangat kalau permainannya singkat, dipilih bersama, dan berhenti sebelum ia lelah.
UNICEF menyarankan rutinitas belajar yang sederhana dan beri anak pujian atas usahanya, bukan hanya untuk nilai, dalam tips pengasuhan anak 6-10 tahun. Enam pegangan berikut cocok untuk semua permainan matematika sederhana di atas.
Kalau anak sedang tidak mau, jangan dipaksa. Coba lagi besok dengan game lain. Tips untuk anak yang belum tertarik ada di artikel cara agar anak suka matematika, dan ide permainan logika tanpa layar ada di coding unplugged.
Permainan saja tidak cukup kalau anak terus salah di jenis soal yang sama, karena permainan melatih kelancaran, sedangkan pemahaman konsep butuh urutan materi yang jelas.
Misalnya anak lancar menjumlahkan tapi selalu salah di nilai tempat atau saat meminjam, seperti 42 - 17. Game membantu menguatkan, tetapi tidak menunjukkan di langkah mana ia keliru. Untuk itu, tes diagnostik matematika gratis sekitar 60 menit memetakan bagian yang masih perlu ditingkatkan. Setelah itu tutor yang sama akan mendampingi setiap minggu dalam kelas live.
Algonova menyediakan kelas coding, AI, dan desain untuk anak usia 5-17 tahun serta matematika untuk anak usia 6-17 tahun, secara live online. Algonova memiliki 1 juta+ murid di 97 negara, dengan rating 4,9. Kelas matematika berdurasi 90 menit, format privat, mini grup (2-4 anak), atau grup maksimal 10 anak. Strategi belajar lebih lengkap ada di cara belajar matematika efektif.
Blog
Untuk kelas 1 SD, game dengan benda nyata paling cocok, seperti Lompat Garis Bilangan, Pasangan Berjumlah Sepuluh, dan Penjumlahan dengan Dadu. Ketiganya melatih anak untuk mengenal bilangan dan tambah-kurang tanpa soal tertulis, jadi anak belajar sambil bergerak dan bermain kartu. Mulailah dari angka kecil, misalnya sampai 10, lalu naik ke 20 setelah ia lancar. Di Pasangan Berjumlah Sepuluh, misalnya, anak mencari kartu 6 dan 4 yang berjumlah 10. Anak yang sudah nyaman bisa lanjut ke Tebak Bilangan Rahasia untuk bilangan sampai 100. Coba satu game per hari selama seminggu, lalu catat mana yang paling ia sukai dan ulangi game itu. Game yang diulang terasa mudah, dan rasa percaya diri itu membuat anak mau mencoba angka yang lebih besar.
Cukup 10-15 menit per hari untuk anak kelas 1-3 SD. Sesi pendek menjaga anak tetap tertarik dan membuat game terasa seperti kegiatan seru, bukan tugas tambahan dari orang tua. Lebih baik 10 menit setiap hari daripada satu jam sekali seminggu, karena latihan yang rutin membuat hitungan dasar makin lancar. Berhentilah saat anak masih ingin lanjut, supaya ia menunggu sesi berikutnya. Kalau jadwal sekolahnya padat, ambil waktu setelah makan malam atau di akhir pekan. Mulailah dengan 3 hari seminggu, lalu tambah kalau anak sendiri yang meminta. Kalau ia mulai sering mengeluh atau mengulur waktu, tandanya sesi terlalu panjang. Pendekkan jadi 5-10 menit dan ganti game yang sudah terlalu mudah bagi anak.
Tidak selalu, karena keduanya punya fungsi berbeda. Game dengan benda nyata membuat anak memegang, menyusun, dan membicarakan jawabannya bersama Anda, sedangkan aplikasi memberi latihan cepat dengan umpan balik otomatis. Anak kelas 1 SD biasanya lebih terbantu oleh benda nyata, misalnya kancing untuk memahami angka 12 sebagai 1 puluhan dan 2 satuan. Aplikasi berguna untuk latihan singkat setelah konsepnya paham, terutama saat Anda sedang tidak bisa menemani. Kelebihan dan batas aplikasi dibahas di artikel kami tentang game matematika untuk anak. Untuk anak Anda, coba kombinasi 10 menit game benda nyata dan sesekali aplikasi, lalu perhatikan mana yang membuatnya lebih banyak bertanya dan menjelaskan jawabannya sendiri. Anak yang bisa menjelaskan caranya biasanya sudah paham, bukan sekadar menebak.
Jangan menyebutnya "belajar matematika". Ajak anak bermain kartu atau toko-tokoan, dan biarkan ia menjadi penjual atau pemegang skor. Anak yang takut salah sering lebih mau mencoba kalau perannya bukan murid. Di Warung Kancing, misalnya, ia yang menentukan harga dan Anda yang menghitung kembalian, jadi ia merasa memegang kendali. Sesekali, salahlah dengan sengaja agar ia bisa mengoreksi Anda dan merasa jago. Mulailah dengan 5 menit saja, lalu tambah pelan-pelan. Kalau ia tetap menolak, ngobrollah santai dulu untuk mencari tahu penyebabnya sebelum mengajak main lagi. Sering kali penyebabnya bukan matematika itu sendiri, melainkan pernah dimarahi atau ditertawakan saat salah menjawab. Kalau begitu, mulailah dengan game yang tidak ada jawaban salahnya, seperti Tebak dan Hitung Kancing.
Semua bahan ada di rumah: kartu remi atau kartu angka, dua dadu, kancing atau kacang, sedotan, karet gelang, lakban, kertas, dan uang mainan. Tidak perlu membeli apa pun, karena kardus dan piring kertas bekas pun bisa dipakai, seperti contoh dari lokakarya UNICEF di Kupang. Misalnya, 50 sedotan yang diikat per 10 sudah cukup untuk game nilai tempat dan pengurangan meminjam. Kumpulkan semuanya dalam satu kotak yang mudah dijangkau, supaya anak bisa menyiapkan game sendiri. Dengan kotak itu, 20 game dalam artikel ini siap dimainkan tanpa persiapan tambahan. Kalau ada barang yang belum ada, ganti saja: kancing bisa diganti kacang, dan uang mainan bisa dibuat dari kertas bekas yang digunting dan diberi angka.
Permainan tidak menggantikan les, tetapi memperkuat apa yang anak pelajari di sekolah atau di kelas. Game melatih kelancaran, sedangkan guru menjelaskan konsep dan mengurutkan materi dari yang paling dasar. Kalau anak lancar dan nilainya baik, game di rumah mungkin sudah cukup. Kalau ia terus salah di soal yang sama, misalnya nilai tempat atau pengurangan meminjam, tes diagnostik gratis sekitar 60 menit bisa menunjukkan bagian yang perlu diperkuat. Setelah itu Anda bisa memilih apakah cukup mengulang game tertentu di rumah atau perlu didampingi guru yang sama setiap minggu. Apa pun pilihannya, tetap sisihkan 10-15 menit per hari untuk bermain bersama, karena perhatian Anda ikut membuat anak betah. Anda tidak perlu jago matematika untuk ini, cukup duduk di sampingnya dan ikut bermain.