Cara Mengajar Perkalian pada Anak: 5 Metode yang Terbukti Berhasil

Belajar Matematika

Nadia Rahmawati
Tim Kurikulum Matematika Algonova

Cara mengajarkan penjumlahan dan pengurangan pada anak SD kelas 1-2 yang paling mudah diikuti adalah tiga tahap: benda nyata, gambar atau garis bilangan, baru angka. Mulai dari bilangan kecil dengan kelereng atau sendok, lanjut ke trik menggenapkan ke 10, lalu pelajari nilai tempat untuk menyimpan dan meminjam. Cukup 10 menit sehari, yang penting rutin dan tanpa dimarahi saat salah.
Anak kelas 1-2 paling cepat paham kalau belajar dalam urutan tetap: memegang benda, melihat gambar, baru menulis angka.
Banyak orang tua langsung membuka buku soal, lalu anak menghafal "7 + 5 = 12" tanpa tahu dari mana angka 12 muncul. Dokumen Alur dan Tujuan Pembelajaran Matematika Fase A di platform belajar.id juga menyusun kelas 1 dengan cara itu: anak menghitung dengan benda dulu, lambang + dan = menyusul kemudian.
| Tahap | Alat | Contoh 6 + 3 | Naik tahap kalau |
|---|---|---|---|
| 1. Benda nyata | Kelereng, sendok, kancing | Ambil 6 kelereng, tambah 3, hitung semuanya | Anak bisa melakukannya sendiri tanpa dibantu |
| 2. Gambar | Gambar titik, garis bilangan | Gambar 6 lingkaran dan 3 lingkaran, hitung | 5 soal berturut-turut benar |
| 3. Angka | Kertas dan pensil | Tulis 6 + 3 = 9 | Anak bisa menjelaskan caranya dengan kata-kata |
Patokan sederhana: kalau anak salah dua kali berturut-turut di satu tahap, turun satu tahap dulu. Turun tahap itu wajar, pondasinya memang perlu dipadatkan dulu.

Penjumlahan sampai 10 jadi mudah kalau anak hafal "pasangan bilangan": dua angka yang bersama-sama membentuk angka tertentu, misalnya 10 = 3 + 7.
Siapkan 10 kelereng dan dua gelas. Minta anak membagi kelereng ke dalam gelas dengan semua cara yang ia temukan: 1 dan 9, 2 dan 8, 3 dan 7, 4 dan 6, 5 dan 5. Setelah itu tulis hasilnya berdampingan. Anak akan melihat sendiri bahwa 3 + 7 dan 7 + 3 hasilnya sama.
Trik kedua untuk soal seperti 2 + 7: mulai dari angka yang lebih besar. Anak cukup menyebut "tujuh, delapan, sembilan", bukan menghitung dari satu. Cara ini hemat waktu dan mengurangi salah hitung.
Soal seperti 8 + 5 paling mudah dikerjakan dengan menggenapkan salah satu angka ke 10, lalu menambahkan sisanya.
Langkahnya bisa dilatih sambil memakai dua baris kotak telur atau kotak berisi 10:
Latih dengan 9 + 4, 7 + 6, dan 8 + 7 sampai anak bisa menjelaskan sendiri kenapa ia memecah angka kedua. Ini lebih tahan lama dibanding hafalan, karena anak punya cara untuk menemukan jawaban kalau lupa.
Anak yang paham alasannya tidak perlu menghafal ratusan fakta, cukup menguasai beberapa pola.
Pengurangan sering lebih mudah dipahami sebagai "berapa jauh jaraknya" daripada "mengambil", terutama untuk soal seperti 13 - 8.
Gambar garis bilangan dan tandai 8 serta 13. Minta anak melompat dari 8 ke 10 (2 lompatan), lalu dari 10 ke 13 (3 lompatan). Jawabannya 2 + 3 = 5. Cara ini memakai trik "genapkan ke 10" yang sama dengan penjumlahan, jadi anak tidak perlu mempelajari strategi baru.
Setelah itu, tunjukkan bahwa penjumlahan dan pengurangan adalah pasangan. Tiga angka 5, 8, dan 13 membentuk satu "keluarga fakta": 5 + 8 = 13, 8 + 5 = 13, 13 - 8 = 5, dan 13 - 5 = 8. Anak yang melihat hubungan ini bisa mengecek jawaban pengurangannya sendiri dengan menjumlahkan kembali.

Anak baru siap belajar menyimpan dan meminjam setelah ia paham bahwa 10 satuan sama dengan 1 puluhan, jadi jangan loncat ke penjumlahan bersusun sebelum itu.
Cara paling mudah memakai sedotan. Ikat 10 sedotan menjadi satu "puluhan", sisanya dibiarkan lepas sebagai "satuan". Bisa juga memakai uang mainan: lembar Rp 10.000 sebagai puluhan dan koin Rp 1.000 sebagai satuan.
Contoh penjumlahan 47 + 38. Anak punya 4 ikat dan 7 lepas, ditambah 3 ikat dan 8 lepas. Sedotan lepasnya jadi 15, yaitu 1 ikat baru dan 5 lepas. Ikatnya sekarang 4 + 3 + 1 = 8. Hasilnya 85. Di kertas, langkah "1 ikat baru" inilah yang disebut menyimpan.
Contoh pengurangan 52 - 27. Sedotan lepas hanya 2, padahal harus dikurangi 7. Buka satu ikat, sehingga lepasnya menjadi 12 dan ikatnya tinggal 4. Lepas: 12 - 7 = 5. Ikat: 4 - 2 = 2. Hasilnya 25. Langkah membuka ikat itulah yang disebut meminjam.
Soal cerita menjadi lebih mudah kalau anak menggambar ceritanya sebelum menentukan menjumlah atau mengurangi.
Sebagian lembar latihan menyarankan kata kunci: "lagi" berarti tambah, "hilang" berarti kurang. Cara ini sering gagal. Coba soal ini: "Dina punya 12 stiker. Stiker Dina 4 lebih banyak daripada stiker Raka. Berapa stiker Raka?" Ada kata "lebih", tetapi jawabannya pengurangan: 12 - 4 = 8.
Kebiasaan yang lebih aman terdiri dari tiga pertanyaan: siapa saja yang ada di cerita, apa yang diketahui, apa yang ditanyakan. Setelah itu anak menggambar kotak atau lingkaran untuk setiap orang. Dari gambar itu, biasanya jelas apakah bagian yang hilang adalah jumlah total atau salah satu bagiannya.
Sesi pendek setiap hari lebih mudah dijaga dibanding satu sesi panjang di akhir pekan, apalagi kalau anak sudah lelah sepulang sekolah.
Satu pola yang bisa dicoba:
Berhenti saat waktunya habis, walau anak masih semangat. Besok anak lebih mau mulai. Kalau Anda butuh ide permainan lain, lihat game matematika untuk anak, dan untuk trik hitung yang lebih cepat ada panduan cara cepat berhitung. Kalau anak sudah lancar penjumlahan dan pengurangan, langkah berikutnya adalah cara mengajarkan perkalian.
Sebagian besar kesalahan di penjumlahan dan pengurangan berasal dari nilai tempat yang belum kuat.
| Kesalahan | Contoh | Cara memperbaiki |
|---|---|---|
| Lupa menyimpan | 47 + 38 = 715 | Kembali ke sedotan, minta anak mengikat 10 lepas jadi 1 ikat |
| Mengurangi angka kecil dari angka besar tanpa melihat posisi | 52 - 27 = 35 | Minta anak menulis "2 - 7, cukupkah?" lalu meminjam |
| Salah di angka nol | 40 - 7 = 47 | Gunakan uang mainan: 4 lembar Rp 10.000, tukar 1 lembar dengan 10 koin |
| Menjumlah padahal soalnya mengurangi | 13 - 8 = 21 | Gambar ceritanya dan tanya "apa yang dicari?" |
Kalau anak masih sering keliru setelah 2-3 minggu latihan rutin, atau malah mulai menolak setiap kali melihat soal hitung, ada baiknya Anda mencari tahu bagian mana yang sebenarnya belum dikuasai. Penyebabnya bisa beragam, dan kami membahasnya di kenapa anak susah belajar matematika. Kesulitan yang menetap dan tidak membaik walau sudah dilatih perlu dibahas dengan wali kelas, dan diskalkulia pada anak menjelaskan tanda-tandanya.
Untuk anak 6-7 tahun, program les matematika anak kelas 1-2 Math Starters mencakup penjumlahan dan pengurangan sampai 100 dengan pendekatan visual yang mirip cara di atas. Anak kelas 3-6 yang masih tertinggal di dasar bisa melihat les matematika SD kelas 3-6. Kelas dimulai dari diagnostik gratis sekitar 60 menit, grup hingga 10 anak, harga mulai Rp 102.000 per pertemuan.
Blog
Anak biasanya siap mengenal penjumlahan dan pengurangan sederhana sekitar usia 5-6 tahun, dan di sekolah dasar materi ini masuk resmi di kelas 1. Tidak ada patokan umur yang kaku. Yang lebih penting adalah kesiapan dasarnya: anak bisa menghitung benda satu per satu dengan benar, tahu bahwa angka lebih besar berarti jumlah lebih banyak, dan bisa menyebut urutan angka sampai 10 tanpa terlewat. Kalau anak masih sering salah menghitung benda, perkuat itu dulu sebelum masuk ke tanda tambah dan kurang. Anda bisa memulai dari kegiatan sehari-hari, misalnya menghitung sendok di meja makan atau sepatu di rak. Untuk anak usia TK, panduan matematika untuk anak TK menjelaskan persiapan yang cukup dilakukan sebelum kelas 1. Jangan buru-buru memperkenalkan soal bersusun sebelum anak benar-benar nyaman dengan bilangan sampai 20 dan paham arti tanda sama dengan.
Boleh, terutama di kelas 1. Jari adalah alat hitung pertama yang selalu tersedia, dan anak yang dilarang memakainya sering justru menebak jawaban. Yang perlu dikejar adalah pergeseran bertahap: dari menghitung satu per satu, ke menghitung maju dari angka terbesar, lalu ke pasangan bilangan 10 yang sudah dikenal. Misalnya untuk 7 + 3, anak yang sudah paham pasangan 10 akan langsung menjawab tanpa mengangkat jari. Anda bisa menandai kemajuan ini dengan menantang anak: "Tebak dulu, baru cek pakai jari." Kalau di kelas 3 anak masih menghitung satu per satu untuk soal sampai 20, pasangan bilangannya perlu dilatih ulang. Untuk teknik jari yang lebih terstruktur, pelajari jarimatika. Tujuannya tetap sama: jari membantu di awal, lalu perlahan digantikan pemahaman. Untuk 6 + 5, misalnya, anak menyebut 6 di kepala lalu menambah lima jari: tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas.
Penjumlahan lebih dulu, tetapi jangan menunggu sempurna sebelum mengenalkan pengurangan. Anak biasanya menguasai penjumlahan sampai 10 dalam beberapa minggu, lalu bisa mulai pengurangan sampai 10 sambil terus melatih penjumlahan sampai 20. Cara terbaik adalah mengajarkan keduanya sebagai pasangan, misalnya lewat keluarga fakta 3, 4, dan 7: 3 + 4 = 7, 4 + 3 = 7, 7 - 3 = 4, dan 7 - 4 = 3. Dengan begitu, anak melihat bahwa pengurangan adalah penjumlahan yang dibalik, dan satu fakta yang dikenal otomatis membuka empat soal. Kalau anak sudah lancar penjumlahan tetapi macet di pengurangan, kembali ke garis bilangan dan minta ia melompat dari angka kecil ke angka besar. Latihan ini hanya butuh beberapa menit per hari dan sering lebih efektif dibanding mengulang soal yang sama berkali-kali tanpa tahu di mana letak kebingungannya. Anak yang tahu 6 + 4 = 10 otomatis bisa menjawab 10 - 4 dan 10 - 6.
Hafalan berguna, tetapi sebaiknya muncul sebagai hasil dari pemahaman, bukan penggantinya. Fakta seperti 6 + 4 atau 7 + 3 sebaiknya cepat dijawab karena dipakai di hampir setiap soal yang lebih besar. Cara melatihnya yang paling ringan adalah permainan kartu angka, lempar dua dadu, atau tebak cepat saat di perjalanan. Jangan jadikan hafalan sebagai hukuman atau lomba melawan waktu, karena anak yang tegang justru lebih lambat dan mulai menghindari matematika. Untuk fakta yang belum diingat, anak tetap bisa memakai trik "genapkan ke 10" sebagai cadangan. Seiring latihan, jawaban yang awalnya dihitung perlahan akan menjadi otomatis. Sebagai patokan kasar, anak kelas 2 sudah cukup lancar kalau sebagian besar fakta sampai 10 bisa dijawab tanpa berpikir lama. Kalau belum, cukup perbanyak permainan singkat dan jangan menambah soal tertulis. Misalnya main "tangkap cepat" tiga kali seminggu: Anda menyebut 6, anak menjawab pasangannya ke 10, yaitu 4.
Jelaskan dengan benda yang bisa dipegang, bukan dengan aturan. Gunakan sedotan yang diikat per 10 atau uang mainan. Untuk menyimpan, tunjukkan bahwa kalau satuan sudah mencapai 10, kita menukarnya dengan satu ikat atau satu lembar puluhan. Untuk meminjam, tunjukkan bahwa kalau satuan tidak cukup, kita membuka satu ikat menjadi 10 satuan. Biarkan anak melakukan penukaran itu dengan tangannya sendiri berkali-kali, baru pindahkan ke kertas. Banyak anak yang menghafal "pinjam satu dari tetangga" tanpa tahu artinya, lalu bingung saat bertemu angka nol. Kalau anak sudah paham alasannya, soal seperti 40 - 7 tidak lagi membingungkan karena ia tahu harus membuka satu ikat dari empat ikat yang ada. Mulai dari soal dua angka yang hanya butuh satu kali menyimpan atau meminjam. Setelah itu baru tingkatkan ke soal tiga angka dan yang butuh dua kali.
Ketiganya bisa membantu, dan jawabannya tergantung tujuan Anda. Jarimatika dan sempoa melatih hitungan cepat lewat alat bantu. Les matematika online fokus pada pemahaman konsep dan menyesuaikan dengan materi sekolah. Kalau tujuan Anda agar anak nyaman dengan penjumlahan dan pengurangan di sekolah, yang paling dibutuhkan adalah pemahaman nilai tempat dan strategi memecah angka, dan itu bisa dilatih di rumah maupun di kelas. Perbandingan lengkapnya ada di sempoa, jarimatika, atau matematika online. Satu hal yang layak dicek apa pun pilihannya: apakah anak bisa menjelaskan caranya, bukan hanya menjawab cepat. Anak yang bisa menjelaskan biasanya lebih tahan saat soalnya diubah bentuk, misalnya dari soal angka menjadi soal cerita. Kalau ragu, mulailah dari menilai posisi anak sekarang, lalu pilih alat yang cocok dengan kebutuhannya. Anak yang sering salah di angka nol, misalnya, lebih butuh latihan nilai tempat daripada hitungan cepat.
Untuk anak kelas 1, 10 menit sehari cukup, dan 15 menit adalah batas atas untuk kelas 2. Konsentrasi anak usia 6-7 tahun memang pendek, jadi sesi yang terlalu panjang justru menurunkan kualitas latihan. Lebih baik berhenti saat anak masih mau lanjut daripada memaksa sampai ia kesal. Variasikan bentuk latihan: satu hari pakai kartu, hari lain pakai garis bilangan di lantai, hari lain pakai uang mainan di warung-warungan. Berikan satu fokus per sesi, misalnya hanya penjumlahan melewati 10. Kalau anak terlihat lelah sepulang sekolah, geser latihan ke pagi akhir pekan. Setelah 3-4 minggu, cek tiga hal: apakah anak lebih cepat menjawab, lebih berani mencoba, dan bisa menjelaskan caranya. Kalau tidak ada perubahan sama sekali, periksa lagi tahap belajar yang dipakai, karena mungkin anak masih perlu kembali ke benda nyata.
Pertimbangkan les kalau Anda sudah melatih rutin 3-4 minggu dengan cara di atas tetapi anak tetap kesulitan, atau kalau waktu orang tua tidak memungkinkan untuk mendampingi setiap hari. Tanda lain: anak mulai bilang "aku bodoh di matematika", menolak mengerjakan PR, atau nilai matematika turun dua ulangan berturut-turut. Sebelum memilih les, cari tahu dulu bagian mana yang belum kuat, supaya les tidak mengulang materi yang sudah dikuasai. Di Algonova, kelas dimulai dari diagnostik gratis sekitar 60 menit yang menunjukkan hasil per topik, lalu guru menyusun rencana belajar. Grup berisi sampai 10 anak dan harga mulai Rp 102.000 per pertemuan. Panduan kapan anak mulai les matematika membantu Anda menimbang waktunya, dan asesmen matematika anak menjelaskan cara mengecek level di rumah. Bawa buku latihan atau PR terakhir anak ke sesi pertama, supaya guru bisa langsung melihat pola salahnya.